Suara Rindu #2

“Hai, Sayang.”
Stop it, Zia. Can u please?
“Hai. So, mau kemana?”
“Gw mau liat matahari terbit.”
“Ha?”
“Iya, sunrise. Tebing Keraton kalau nggak salah namanya. Gw nggak tau juga sih. Lo tau itu di mana?”
“Nggak. Yaudah kan ada GPS.”
Apapun, Zia. Apapun yang kamu mau.
Sambungan telepon ditutup dan suaramu membuat dada ini semakin sesak tak menentu. Dan, yang paling menyiksa adalah, sebentar lagi aku akan melihatmu dalam bentuk nyata. Bukan hanya suara. Semenjak kita tak berseragam abu-abu lagi, sungguh jarang kulihat wajahmu. Aku tak punya alasan untuk tiba-tiba menghampirimu ke Jakarta dengan segudang kegiatan perkuliahan dan organisasimu. Ah, lebih tepatnya aku takut menyapamu langsung. Kenyataan aku ingin merengkuhmu membuat lidah ini kelu.
Aku, lebih memilih untuk menikmati suaramu dari jauh. Aku, lebih memilih diam untuk tetap menjadi persinggahan ketika kamu bosan atau butuh liburan. Aku, memilih untuk bersikap diam pada rinduku yang menyesak tak tahu diri.
Pukul 4.30 pagi, sesuai janji aku sudah menantimu di depan pagar tempat kamu menginap. Aku ingin bilang, ‘Kamu jangan lupa membawa jaket tebal, udara sangat dingin, Zia.’
Kamu lalu keluar dari pagar hitam itu dengan sumringah, menunjukkan gigi  di antara pipimu yang tembam. Kamu berbalut jaket jeans biru tua. Aku lega.
Let’s go! Ih, ini kenapa helmnya begini?”
Kamu menepuk bahuku lalu mengomel karena tak bisa memasang kunci helm di bawah dagumu. Kamu memintaku merekatkanya hanya dengan satu gerakan wajah. Raut yang tak pernah bisa aku tolak. Raut yang membuat matamu menyipit hingga menutup. Aku ingin selalu menghentikan waktu untuk raut itu, membiarkanmu seperti itu, dan melihatmu dari jauh, tanpa kamu tahu.
“Jauh nggak sih? Katanya sih deket dari Dago. Tapi, nggak tau juga. Lo udah liat GPS, kan? Tau kan gw nggak bisa diandalkan? Gw masih belum bisa baca peta.”
Ah, suaramu. Zia… Sesakku melega. Senyumku merekah. Kamu, suaramu, dan jemarimu yang menggenggam jaketku di dua sisi punggungku, melepas semua rindu.
“Iya, deket.”
Pukul 05.00 aku berhasil membawamu ke tempat yang sudah kamu sebutkan berulang lewat telepon.
Kamu turun dari sepeda motor dengan tergesa. Wajah mengantuk dirias semangat membara hanya untuk melihat matahari terbit. Kamu selalu berhasil membuatku tersenyum tipis di hadapanmu.
“Aaaaa, bagus Al..”
Matahari terbit tepat di atas puncak gunung. Kamu beruntung, Zia. Beberapa hari lalu aku mencari tahu tentang tempat ini begitu kamu menyebutkannya. Teman-temanku bilang, sunrise tidak selalu semenakjubkan ini. Tapi, aku tak peduli. Senyummu, tawamu, suaramu cukup membuat pagi ini menakjubkan. Tanpa aku perlu memandang siluet jingga yang kamu suka setengah mati itu.
So, how’s life? Udah move on, kan?”
Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaanmu, sambil memesan indomie rebus yang akan jadi sarapan kita pagi ini.
Kamu orang pertama yang aku hubungi begitu aku berstatus jomblo kala itu. Aku tak tahu mengapa. Aku hanya tau aku ingin menghubungimu. Aku ingin mendengar suaramu.
“Dasar lo! Tapi, kemarin katanya udah ada yang baru. Cepat juga ya?”
“Hehe. How about you?
Aku tak suka membicarakan perempuan lain bersamamu. Entah kenapa. Aku hanya tidak suka.
“Hm, gw juga udah move on. Nggak mungkin juga kan ngejar dia ke Inggris?”
“Maksudnya?”
“Dia lanjut kuliah di Inggris. Gw udah jadian sama teman di komunitas juga. Katanya sih ngajakin gw nikah. Yaudah. Gw terima. Gw juga tiba-tiba sayang sama dia. Anaknya cakep, deh. Kapan-kapan gw kenalin.”
Dan, aku menyesal melontarkan pertanyaan itu.
“Eh, dari tadi hp lo bunyi. Kok diangkat, sih?”
“Biarin aja.”
Dia bukan siapa-siapa, Zia. Hanya perempuan yang mengaku mencintaiku tiga minggu yang lalu. Seminggu kemudian, aku menyatakan cinta padanya. Tapi, hadirmu di sini membuatku tak peduli dengan kata cinta itu. Hari ini saja. Aku janji.
“Al, kalau gw pacaran sama dia tapi gw masih inget si doi yang di Inggris itu, gw salah nggak sih? Whatever, gw janji bakal ngasi hati gw seutuhnya sama cowok ini. Serius deh. He loves me. And, I love him.
Stop it, Zia. Please. Aku hanya bisa mendengar kisah itu lewat telepon. Aku tak ingin mendengarnya sekarang. Nanti, Zia. Lewat telepon. Kumohon.
“Lama-lama bisa. Pelan-pelan.”
Aku menghela nafas.
“Al, lo itu kenapa sih kalau ketemu langsung.., irit kata banget? Gw tau lo pendiem. Tapi, makin lama kok makin diem sih? Senyum-senyum doank. Cerita kek. Apaaa gitu.”
“Mau cerita apa. Kan emang biasanya kamu yang selalu cerita.”
“Iya juga. Haha.”
Tawamu lalu membuncah.
Zia, lidahku kelu begitu melihatmu. Aku hanya ingin menikmati senyummu seperti ini. Aku hanya punya waktu sehari. Sisanya, kamu akan kembali lupa denganku. Kamu akan kembali sibuk dengan mimpi-mimpimu. Sebelum rindu ini kembali membumbung dengan suaramu di ujung telepon, izinkan aku menikmati hari ini, seperti ini. Diam, dan mendengar suaramu dengan raut wajahmu.
“Al, balik yuk. Gw belum mandi by the way.”
“Hahaha…”
Dan, kamu selalu berhasil membuatku tersenyum dengan cerobohmu, rautmu, suaramu.
@gizsyaresha
21.07.17 – 04.26

Cerita sebelumnya, klik di sini.
Cerita selanjutnya, klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: