Serial Rindu #7

Alfa

Aku tak tahu sejak kapan aku merindukan sahabatku itu. Aku tahu, aku menanti tiga kata itu entah sejak kapan. Tapi, aku sungguh tidak mengharapkan kata-kata itu sekarang.

Dua bulan lalu, atau empat bulan lalu, atau entah kapan. Zia selalu hadir dengan banyak cerita melalui ponselku. Bandung-Jakarta tak pernah menjadi alasan persahabatanku dengannya memudar. Aku tak mendengar suaranya, tapi dia menyapa dalam pesan-pesan singkat yang masih tentang romansanya. Ale, Reihan, atau entah siapa pun itu. Aku menyimak semua ceritanya. Aku pun mengira, perlahan hatiku telah berdamai dengan diriku sendiri. Aku mulai berdamai dengan rindu dan suaranya.

Lalu, mengapa kamu menyebut tiga kata itu dengan nada yang tak bisa kuyakini bahwa itu benar dirimu, Zia?

I love u, Alfa. Tiga kata itu kemudian muncul di layar ponselku. KIni dalam bentuk pesan whatsapp.

Stop playing around. Kamu bahkan nggak tahu kamu ngomong apa. Aku tak tahu mengapa. Tapi, aku begitu kesal dengan kata-katanya.

Aku tahu, kamu sayang sama aku dari dulu. Iya kan? Teman-teman kita banyak yang bilang.

I said stop it, Zia.

Kalau kamu sayang, jangan pacaran sama dia. Siapapun itu. Jangan sekarang.

Jangan sekarang? Aku kenal Zia bukan dalam waktu singkat. Kata I love u kali ini tidak beda dengan yang biasa ia ucapkan tiap kali diakhir telepon. Ini Zia yang sama.

Zia, I love for such a long time. I can wait for you for long time. Tapi, aku nggak pernah pengen kamu bilang kata-kata itu sekarang. Di waktu kayak gini. Zia mengucapkan tiga kata itu terlalu sering, sangat sering. Beberapa detik ingin kuanggap itu sungguh dari hatinya. Aku lalu tersadar, dia masih sama.

Ha? Ciee… Alfa..

See? Dia Zia. Masih Zia. Tetap Zia.

Aku lagi serius, Zia.

Dari dulu, maksudnya? Aku juga lagi serius.

Kamu nggak pernah berubah. I cant help it anymore.

Al, Sorry…

Apa? Sorry? Bertahun-tahun kuredam rindu ini. Lalu, kamu bilang sayang, dan sekarang mengucap maaf? Aku lebih terima jika kamu menolak aku mati-matian, daripada kata maaf, Zia. Rindu ini tak pantas kamu balas dengan ‘maaf’.

Kita nggak bisa temenan lagi.

Aku nggak minta kita punya hubungan lebih dari teman, Al.

That’s why. Stop it. Sebelum semuanya makin buruk dalam kondisi awkward kayak gini, Zia.

Alfa, jadi selama ini gw nyakitin lo ya?

So long.

Maaf.

Nafasku berayun tak karuan. Seperti ada jarum yang menusuk bertubi-tubi di jantungku. Zia, stop it please.

I will love u, now. Seriously. Okay?

Why u say that again. Zia please. Stop it.

Stop it, Zia. Stop it, or i’ll block u. I’m warning u.

Jangan marah gini donk. Aku bingung.

Kamu terlalu sering bingung. Tapi aku nggak pernah bingung, Zia. Stop it, atau kita bahkan nggak bisa temenan lagi.

Sorry, Alfa.

Detik kemudian, aku menyentuh tombol ‘block’.

 ***

Zia

Aku terus mengetik kata maaf yang akhirnya kusadari tak terkirim dengan jaringan internet yang cukup. Alfa memblokir nomorku. Alfa, memblokir nomorku. Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa Alfa sungguh tak ingin berkomunikasi lagi denganku.

What did I do?

Aku merasa ada yang salah. Alfa tidak seperti biasanya.

Does he really love me?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: