Suara Rindu #3

Namanya Alfa. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi. Hidungnya punya batang yang cukup membelah wajahnya dengan simetris. Dan, dia selalu memiliki senyum tipis untukku. Dia Alfa, sahabatku sejak sepuluh tahun lalu. Lelaki dengan kosa kata minim yang selalu setia mendengar semua ceritaku.
Hari ini, aku ingin melupakan semua cinta yang pernah aku punya untuk seorang lelaki yang memilih melanjutkan studi ke Inggris setelah aku berhasil mengejarnya ke Jakarta. Hari ini, aku ingin memberitahu hatiku untuk tidak akan mencintainya lagi. Hari ini, aku ingin memulai cinta yang baru untuk seseorang yang dengan jelas mencintaiku. Lelaki yang baru saja menyematkan cincin di jariku.
Dan, hari ini aku memutuskan untuk liburan ke Bandung. Aku punya Alfa di kota itu. Aku tak bicara banyak tentang lelaki yang berhasil menggenggam tanganku sejak setahun lalu itu. Yang Alfa tahu, aku masih merindukan cinta pertamaku sejak zaman putih abu-abu itu. Entah kenapa, entah alasan apa, aku mengganggap hal itu tak perlu. Alfa tak perlu tahu tentang aku yang sedang patah hati sekaligus ingin jatuh hati ini. Atau mungkin dia sudah tahu. Entahlah.
Pagi itu, Alfa datang tepat waktu. Dia selalu begitu. Dengan senyum tipis dan kosa kata yang minim, dia mengantarku ke Tebing Keraton untukku menyaksikan matahari terbit. Aku menggenggam jaket di sisi kanan dan kiri pinggangnya, lalu membenamkan kepalaku di punggungnya. Aku diam cukup lama hanya untuk menyatakan diri bahwa aku baik-baik saja. Waktuku menunggu sudah habis, Alfa. Aku ingin cinta yang baru. Kuharap, kamu setuju.
Alfa cukup tahu emosiku yang selalu berubah. Detik ini aku bisa tertawa sumringah, detik kemudian aku bisa diam tanpa senyum dan kata. Tapi Alfa juga tahu, aku tak mudah berpindah dalam hal rasa.
Sikapnya yang diam hari ini membantuku menyesak semua rindu untuk lepas bersama matahari terbit. Rindu yang kusampaikan pada pagi untuk lelaki yang sedang mengejar mimpi di Eropa. Alfa, bukan aku tak mau mengejarnya. Tapi, rinduku yang tak terbalas lebih dari lima tahun ini tak mampu kubendung lagi. Aku muak. Aku tak ingin merindu lagi.
So, how’s life? Udah move on, kan?” Tanyaku pada Alfa.
Pertanyaan itu sebenarnya untuk diriku sendiri, Alfa. Hari ini kuputuskan aku akan berpaling ke hati yang lain. Hari ini kuputuskan untuk mencintai pacarku sepenuh hati setelah setahun tanpa arti. Aku janji.
 Gizsya
23.54 – 02.08.17

Cerita sebelumnya, klik di sini.
Cerita selanjutnya, klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: