Tentang Mimpi yang Tertunda

Pernah nggak, lo pengen banget sama sesuatu, tapi terpaksa harus ditunda untuk waktu yang tidak tau kapan?

Gw..Iya.

Sejak dulu, gw tau mau jadi apa dan ngapain dalam hidup. Let say dalam karir dan pengembangan skill. Seringkali juga, gw idealis dan egois tanpa celah hanya karena gw yakin dengan keinginan diri. Lalu, pada satu titik gw menyadari bahwa mimpi itu hanya untuk diri gw sendiri.

Sampai akhirnya gw sadar bahwa bahagia sejati adalah ketika bahagia itu bisa dibagi. Bukan untuk diri sendiri.

Hal itulah yang membuat gw menunda beberapa mimpi demi mewujudkan bahagia orang lain. Contoh sederhana, ketika gw udah nyiapin segala tetek bengek dokumen untuk beasiswa overseas, tapi mami menyatakan tidak. Kuliah di luar negeri adalah salah satu mimpi dan bahagia yang gw pengen. Tapi, apa daya, surat izin mami tidak bisa didapat. Akhirnya, mimpi ini harus gw tunda.

Ada juga mimpi lain. Gw mau jadi full writer. Mimpi ini kembali harus gw tunda karena hidup jadi penulis saja tampak mustahil. Sementara, gw juga punya profesi sebagai SOP Analyst. Akhirnya, gw harus bertahan menjadi SOP Analyst untuk beberapa tahun, dan menunda mimpi tersebut. Why? Karena jika gw mempertahankan menjadi writer dengan penghasilan pas-pasan dibanding SOP Analyst, akan ada papa yang risau dengan kehidupan rantau gw di Jakarta. See?

Lalu, sekarang di tahun ke-5 gw menjalani karir kerja bukan sesuai mimpi, am I happy? Yes, I am. Karena Allah mengganti semua yang tertunda itu dengan indah. Gw menjadi seorang istri dan anak yang membahagiakan orang tua karena melakukan semua keputusan dengan ridho orang tua.

Bahagia sesederhana itu. Bahagia senyaman itu.

Tentang mimpi yang tertunda. Kamu, baik-baik di sana. Aku tidak pernah melupakanmu. Tentangmu masih dalam hatiku. Tenang saja, sebentar lagi akan aku jemput kamu di waktu indahku.

Untuk teman-teman yang sekarang juga berada di posisi yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori mimpi, sabar saja. Tetap simpan mimpi dalam hati, sampai Allah yang menjawab kapan sebaiknya waktu untuk memulai kembali.

Apapun itu, yakin saja ketika kita tidak berdiam diri, maka mimpi pun sebenarnya tidak diam-diam saja. Membangun niat dan semangat tetap jadi kekuatan utama dalam meraihnya. Bismillah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: