Suara Rindu #5

Alfa
Hampir setahun semenjak pertemuan itu, jarang ku dengar lagi suaramu, Zia. Kamu kembali menjadi sosok yang tertidur manis di dalam rinduku. Tak sehari pun aku alpa memikirkanmu. Suaramu hadir ketika aku menunggu lampu merah, ketika aku mengetik laporan kerja, ketika aku memesan makanan, ahh…hadirmu sungguh tak mampu kukendalikan. Ada rasa tersekat di dada tiap kali suara itu muncul di kepalaku. Ada amarah yang tak seharusnya. Ada kutukan yang kukatakan pada diri sendiri, aku harus melupakanmu, Zia.
Ada seseorang yang sedang memelukmu sekarang. Aku tahu itu dengan pasti. Kau mengatakannya dengan sangat renyah, “Dia minta gw jadi istrinya. Doain ya. Abis wisuda, gw nikah kayanya.”
Manghitung bulan, kamu akan benar-benar jadi milik orang lain.   
“I’m getting married, Alfa.”
Sejak hari itu, aku tak lagi ingin mengangkat telepon darimu, Zia.
***
 
“I love you, Baby.” Katanya.
Bibirnya merah, bukan karena lipstik. Tapi karena aku telah melumatnya. Dia senang bukan kepayang. I m good at kissing.
“Kamu suka baca buku sekarang?” Katanya sambil mengambil buku dari tasku.
“Iya. Itu teman aku yang nulis.” Jawabku.
“Teman kamu penulis…hmm.” Balasnya sambil mengangguk.
Ia membuka lembar akhir buku itu. Tentang Penulis. Namamu terpampang di halaman itu. Halaman yang paling sering kubaca. Halaman yang paling aku suka. Halaman yang membuat sesak di dadaku semakin menyiksa.
Suara itu muncul lagi.
“Kamu kangen banget? Nyium aku terus.” Katanya.
Aku memeluk gadis beraroma mawar di hadapanku dengan erat. Dalam waktu yang sama kubelai rambutnya, dan sejurus kemudian dia terhanyut dalam ciumanku.
Aku rindu.

Gizsya

Cerita sebelumnya di Serial Rindu #4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: