Suara Rindu #1

“Al, still awake?”
Jam setengah dua pagi.
Aku tahu, suara itu akan membuat seluruh sarafku terbangun. Melihat namamu di screen hp-ku cukup membuat kantukku hilang. Suara yang mengingatkanku tentang rindu yang kubungkus rapat-rapat tanpa kabarmu. Suara yang hadir hanya untuk satu kisah dengan entah berapa banyak rindu. Tapi, bukan tentang rinduku.
“Bangun. Gw mau cerita.”
Masih tentang lelaki yang sama. Lelaki yang kamu gilai sejak kita masih berseragam putih abu-abu. Tentang rindumu yang terbalas dengan satu jawaban chatting setelah kamu mengumpulkan keberanian hanya untuk bertanya ‘apa kabar’.
“Lo dengerin gw nggak sih? Diem aja.”
Aku mendengar dengan jelas tiap katamu. Aku terjaga dalam tiap suara tawamu yang renyah.
Kamu, dengan suara khas melengking yang enak didengar, membuatku lupa dengan rutinitasku besok. Kamu, dengan semangat berceritamu, membuatku meronta kembali mengumpulkan rindu. Suaramu, membuat dada ini sesak dan lega dalam waktu yang sama.
“Iya, gw dengerin. Lo nelfon malem-malem cuma buat cerita ini?”
“Nggak. Gw mau tanya sama lo. Itu cowok, suka nggak sih sama gw? Kadang, gw ngerasa kalau dia sayang sama gw. Tapi, kalau cueknya kambuh, gw mikir dia nggak peduli sama gw. Aneh kan?”
Kamu yang membuatku tetap betah mendengar suaramu menggilai lelaki yang aku tak pernah sekali pun tahu dia siapa, itulah yang aneh. Rasa yang aneh.
“Lah, gw kan bukan dia. Mana gw tau. Tanya langsung lah.”
“Gila lo. Kan gw cewek.”
Kamu perempuan yang digilai banyak lelaki. Aku tahu itu dengan pasti. Lalu, mengapa kamu harus merindukan lelaki yang bahkan kamu tidak tahu bagaimana cara merindukanmu?
Kamu menghela nafas di ujung sana. Membuatku mampu mendengar jelas bagaimana kamu mencintainya. Dengan nada rendah kamu meracau kata yang semuanya tentang dia. Kata-kata yang keluar begitu saja dari suara khasmu yang begitu melekat di telingaku. Aku, masih di sini untuk selalu mendengar ceritamu.
“Bulan depan gw ke Bandung. Tanggal 9. Kosongin jadwal ya. Gw mau jalan-jalan.”
I m just ur one call away. Bahkan jika kamu memintaku ke Jakarta malam ini, aku akan melupakan deadline kerjaku besok pagi. Dan aku tahu, kalimatmu barusan menyatakan bahwa kamu sudah puas dengan cerita rindumu dan sambungan telepon ini akan segera berakhir. Suaramu akan kembali menyisakan rindu.
“Oiya, lo udah punya cewek lagi?”
Ah, iya. Aku lupa telah berstatus ‘pacar orang’.
“Iya, Udah. Gampanglah. Sekalian gw kenalin ntar.”
“Ampun deh. Kapan lo berhenti jadi player?”
“Hehe.”
Tawa kecil cukup untuk menjawab itu, Zia.
“Al, thank you udah dengerin cerita gw. U re always be my best friend.”
Aku suka ketika kamu memanggilku ‘Al’ dengan suara itu.
Anytime, Zia.”
I love you, my best friend. Udah sana tidur lagi.”
Kamu kemudian mengakhiri suaramu yang kurindui dengan cara yang selalu sama. Kamu merapal kata-kata yang tak punya arti bagimu, tapi menusuk rinduku tanpa henti.
Kalimat penutup yang menjadi khasmu. Dan, kalimat itu membuat dadaku sesak, yang menjadi khasku.

Cerita selanjutnya, klik di sini.

Gizsya
18.07.17 – 05.36



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: