Logan: Tetaplah Jadi Diri Sendiri

Abis meeting, dan kepala gw rasanya penuh. Pengen meledak, tapi nggak boleh. Karena, kalau meledak ntar nggak ada yang ngerjain deadline gw. Hahaha…Okay, maaf gw lagi error.
Akhirnya, gw nelfon sohib gw yang jam setengah 6 sore itu masing nongkrong di kantornya. Bulan Maret ngajak auditor jalan emang gamblingbanget. Secara, hampir seluruh jam hidupnya bakal dihabiskan dengan laporan keuangan di depan laptop.
“Gw nggak lembur malam ini. Akhirnya.. Hahaha. Nonton Logan, yuk!”
“Terserah mau ngapain. Gw abis meeting di Plaza Senayan. Lo yang kesini atau gw nyamperin ke Kuningan?”
“Macet buset. Lo ke Kuningan City aja. Gw langsung beli tiket.”
Okay!
Percayalah, ketika manusia overtime dan manusia deadline ketemuan, nggak ada hal yang rumit selain waktu. Begitu waktunya cocok, mau ngapain dan dimananya jadi lebih gampang. Hihi..
Skip this bullshit, langsung aja ke cerita Om Wolverine ganteng.
Logan masih ganteng. Doi masih keren sejak X-Men awal yang gw pernah tonton. Kalau diingat, Logan adalah anggota X-Men yang paling kuat. Kalau menurut gw sih karena dia mampu healing sendiri. Jadi, senjata apapun yang nangkring di badannya, dapat dengan mudah dia sembuhkan sendiri. Sebagai Wolverine, cakar di tangannya itu paling kece badai. Okay!
Di sini, Logan punya anak. Hmm, anak kloning sih. Gw suka sama karakter si anak yang dialognya cuman teriak-teriak ini. menurut gw dia unik dan memikat. Kece…
Gw nggak mau spoiler terlalu banyak. Intinya, di film X-Men kali ini, Logan kemballi mengingatkan untuk tetap menjadi diri sendiri, apapun dan bagaimana pun kondisi diri. Charles, sang kepala sekolah fenomenal juga mengingatkan bahwa keluarga adalah lingkungan paling hangat dan tempat paling bahagia. Ada cinta yang tak terdefenisi di dalam keluarga.
Nggak ada romance yang berlebihan. Nggak ada juga drama yang bikin pusing. Pesan tersirat disampaikan dengan sangat lembut dan mampu bikin merinding.
“Daddy!”
“So, this is how it feels.”                                                                                                                                          
This is how it feels, kalimat Logan diujung nafasnya ini berhasil bikin teman gw nangis di tempat.
“Bagus, Giz. Ngena banget.” Ungkap Suzy (nama samaran), teman gw termehek-mehek di akhir scene.
Tetaplah jadi diri sendiri, tetaplah meraih mimpi yang diyakini, dan tetaplah menjalani hidup yang membahagiakan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: