Sampai Sebelum Subuh

Hai Dewa Malam. Apa kabar?
Aku sedang merayu salah satu kurcaci malam untuk bisa mengantarkanku ke singgasanamu. Kurcaci dengan sayap mungil itu bilang, kau lebih banyak diam belakangan ini. Kau tidak berbicara pada siapapun di tengah awan. Kau kemudian membuat mereka sedikit canggung ketika harus menyapamu. Ada apa denganmu wahai Dewa Malam?
Aku berniat menjengukmu malam ini. Tapi, karena gosip para kurcaci itu, aku jadi sedikit khawatir.
Jika aku berhasil menjangkaumu malam Ini, ku mohon kau tidak mengusirku. Aku sudah membawa dua gelas coffee latte untuk kita minum bersama. Aku punya banyak cerita. Jadi, jangan galak padaku malam ini, ya?
Aku ingin bilang padamu untuk berhenti menyebutku gila. Aku punya beberapa bukti bahwa aku memang sudah tidak gila.
Aku tidak lagi menulis namanya sebagai tokoh novelku. Aku juga tidak menyebut namanya di malam panjangku. Aku pun tak lagi menulis surat di sore senjaku. Aku bahkan tidak lagi merindu. Jadi, kau harus berteman lagi denganku.
Kau tau aku butuh waktu lebih lama untuk memahami hal seperti ini. Aku bahkan harus membuat peta kronologi untuk menghapus semua memori, atau mungkin merapikan hati.
Dewa Malam,
Sungguh. Ajak aku terbang lagi ke langit. Biar itu utara atau selatan, aku tak peduli. Asal kau memegang erat jemari dingin ini. Aku tidak akan usil mencabut bulu sayap putihmu lagi. Jadi, kumohon…ajak aku terbang tinggi.
Aku telah menyiapkan coffee latte panas di samping laptopku. Aku seduh di gelas keramik putih kesukaanmu. Aku tak berhasil meminta kurcaci membawaku padamu. Mereka takut kan amukanmu. Jadi, kau harus menjeputku. Aku tunggu kau sampai sebelum subuh. Jangan membuat aku lama menunggu.

Gizsya
01.08.16 – 03.26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: