Love is Expressing

Kisah cinta suatu senja. Aku duduk terdiam mendengar keluh kesah atas cintanya yang tak pernah terungkap. Sikap diam selalu jadi jawaban. Kata yang terungkap lewat mata pun tak dapat dijadikan fakta. (Shit!Sindrom novel..argh..)
Okay, back to normal.
Jadi ceritanya, teman gw tiba-tiba ngajak ketemuan. Gw kira karena doi kangen berat sama gw, eh taunya lagi pengen curhat. Ya okelah. Mayan untuk menemani kesenduan senja dalam merindu cinta. Elahh…
Sebut saja Bae Suzy. Dia cantik dan menarik. Dia pinter, terbukti IP-nya kumlaude. Dia petualang dan hobi naik gunung. Dia juga teman yang baik. Garansi!
“Gw nggak tau harus gimana sekarang. Jadi, gw lebih sering diem aja kalau di dekat dia.”
“Seberapa sering kalian bareng? Belajar bareng atau makan bareng di kantin gitu? Bukan berdua maksud gw. Tapi rame-rame sama teman kuliah lo.”
“Dulu lumayan sering. Tapi, belakangan nggak. Gw jadi nggak nyaman.”
“Padahal kangen kan..” Gw nyengir meledek. Hahaha..
Ceritanya, Suzy jatuh cinta sama teman kuliahnya. Sebut saja Kim Woo Bin. Pertama kali ketemu pas acara pecinta alam kampus. Mereka naik gunung bareng. Ketika Suzy kedinginan, Woo Bin lah orang pertama yang melepas jaketnya untuk Suzy. Ini keren banget klo dijadiin premis novel. Sumpah.
Sebagai cewek, gw sih paham benar kenapa Suzy bisa segera jatuh cinta sama Woo Bin. Cowok manly emang gampang bikin cewek kesemsem. Cius..
Scene ‘keikhlasan melepas jaket untuk seorang wanita’ itu pun berlanjut jadi cie-cie-an pasukan penakluk gunung itu. Hal beginian mah wajar. Tapi percayalah, jadi korban cie-cie-an itu nggak enak. Kalau beneran suka eh jadi baper. Kalau nggak suka eh jadi bete. Kira-kira begitu.
Suzy pun kebawa perasaan. Dan, dari cerita yang gw tangkep, Woo Bin melakukan hal yang sama. Finally, mereka jadi sering berantem. Adu mulut atau debat nggak jelas. Cutedeh. Ini novel-able banget. Hahaha..
“Kak, gw cerita… lo jangan ketawa mulu.”
“Lanjut-lanjut. Gw kayak lagi nonton drama korea. Hihi..”
Dan, karena emang satu kampus, jadi kesempatan ketemu ya sering banget. Hampir semua teman udah blak-blak-an ngeledek. Kayak suatu sinyal yang mengatakan, kalau orang-orang di sekitar, tau kalau dua manusia ini sedang saling jatuh cinta.
Hmm, berdasarkan yang pernah gw baca sih, iya juga. Tiap manusia itu punya partikel-partikel di sekitar tubuh yang menunjukkan bagaimana kondisinya. Sederhananya sih, itu disebut aura. Jadi, kalau kita merasa seseorang suka sama kita, bisa jadi emang iya. Beberapa artikel nyebutnya sebagai frekuensi. Kira-kira sama seperti sekumpulan sahabat yang merasa nyaman satu sama lain.
The point is, kisah ini terjadi berlarut-larut. Bisa dibilang mulai dari semester satu sampai sekarang dia udah mau skripsi-an. Jadi, Suzy udah pada titik bete dan pengen menghapus perasaan yang tak terjawab. Tsaah..
“Capek gw, Kak.”
Kisah seperti ini emang sering kejadian di antara pertemanan beda jenis kelamin. Di persahabatan gw juga pernah terjadi. Kita sahabatan ber-8. Salah satu teman cewek gw naksir sama cowok di persahabatan yang sama. Telisik punya telisik, akhirnya kami semua saling tau. Dan karena gregetan, kami minta sang cowok untuk ambil tindakan segera, secara dia juga suka.Toh, cinta dalam persahabatan nggak ada yang salah. Selagi mereka bukan LGBT. Gw nolak banget yang begituan.
“Ya, dia harus confess. Biar jelas. Daripada gini. Kalian jadi diem-dieman. Teman-teman lo juga jadi bingung kan.”
“Yak kan gw cewek, Kak.”
Okay, gw sih setuju cewek nggak nembak duluan. Tapi, yang gw maksud, bukan tentang lo nembak dia.”
“Lalu?”
Menurut gw, love is expressing. Kalau nggak diungkapin, ya nggak tau. Emang kita dukun. Seberapa perhatian itu orang, kalau nggak diungkapin ya sama aja.” Gw sok dewasa. Mungkin ini gegara gw abis baca novelnya Alexandra Adornetto.
“Gw nggak siap, Kak.”
“Nggak siap ditolak?” Gw ngeledek.
“Jatuh cinta kan nggak salah. Yang sering salah itu gimana cara menggapinya. Emang secara biologis, hormon juga nggak karuan kalau lagi kasmaran. Intinya, kalau dia benaran suka sama lo, dia juga bakalconfess kok. Tinggal tunggu waktu yang tepat.”
“Lah, tadi lo nyuruh gw bilang duluan.”
“Iya ya..?” Gw pasang muka innocent.
”Lo mah plin-plan. Yaudah, sekarang giliran lo yang cerita.”
“Gw? Cerita tentang apa? Kerjaan?”
“Lo gimana?” Muka Suzy berbinar banget nanyain gw.
“Hmm,, main bowling yuk!”
“Resek lo.”
Hahahaha…
Kalau suka ya bilang. Kalau cinta, ya ungkapkan. Cinta itu ribet. Jadi, jangan makin diribetin. Demikianlah konklusi kisah cinta Suzy dan Woo Bin yang bisa gw tulis. Terimakasih. ^_^
Gizsya   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: