Dilema Belajar Pajak

Cerita ujian. Hmm, SKS kah? Sistem kebut semalam! Entah fenomena ini terjadi Cuma di gw atau umumnya mahasiswa/i.
Pajak..! Ujian yang makan waktu ampun gila lamanya. Selain Accurate yang bikin gw nahan kencing selama 6 jam di depan monitor di semester 3.., Nah, di semester ini gw dijejelin ujian selama 200 menit alias  3 jam 20 menit di depan kertas. Mulai dari ngapal Undang-Undang yang gw yakin nggak semua anggota Pajak di Kementrian Keuangan hafal tu isi UU KUP dekaka, ngitung-ngitung SPT,..ahh,,
Mungkin salah gw yang memutuskan untuk membagi otak gw jadi dua di ujian kali ini. Fokus utama gw bukannya ujian, malah ngejar mimpi  yang nggak sengaja masuk dream list gw. Udah terlanjur kejebur, ya udah.., sekalian berenang.
Ternyata, mencari ide dan mengkritisi realita kehidupan jauh lebih susah daripada mengarang ratusan halaman cerita fiksi. Lha? Kenapa jadi cerita ini? Aaiishh..

Kembali ke SKS! Di ujung malam, gw kasian ama otak gw yang dari tadi dipaksa berpikir tentang potongan duit seluruh warga Negara Indonesia demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia (Pasal 1 UU KUP, ups..) alias Pajak. Fenomena SKS ini gw yakin sering terjadi di kalangan pelajar. Mulai dari pelajar merah putih sampai pelajar yang tak bersegaram alias mahasiswa.
Cerita tentang pajak. Selama setengah semester, gw akui baru malam ini gw merenung dalam tentang mata kuliah 4 SKS itu. Semua gw telan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Yang gw pikirin, kenapa orang yang memberi gw beasiswa bersih keras menurunkan jumlah pajaknya. Tapi gw dan banyak teman gw diberi gratis kuliah malah mempelajari pajak.
Andai aja, Bapak pemberi beasiswa gw juga ikut membaca buku yang beliau kasi gratis ini. Gw pengen bileng ke beliau untuk baca di Pasal 1 UU KUP saja. Tentang seberapa pentingnya kegunaan pajak bagi Negara. Di situ, dijelasin kalau pajak itu digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Nah, betapa indahnya ketika kita mampu berbagi, bukan? Toh, agama juga bilang begitu.
Andai aja, Bapak pemberi beasiswa gw juga ikut membaca buku yang beliau kasi gratis ini. Gw pengen bilang, bahwa dengan beliau membayar pajak sesuai aturan nggak bakalan bikin bangkrut tu perusahaan. Secara, tarif yang harus dibayarkan cukup logika.
Kira-kira, Bapak pemberi beasiswa gw baca ini tulisan nggak ya? Hihihi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: