Bergeraklah dari Zona Nyaman

Tadi sore, teman gw nge-whatsapp nanya ginian,

“Enak nggak sih Giz kerja tapi nggak di kantor gitu?”

Gw jawab, “Enak nggak enak. Enak karena waktunya fleksibel. Nggak enak karena kadang kangen suasana kerja banyak temannya.”

Ya, semua kerjaan itu ada enak nggak enaknya. Gw sendiri bukan masuk golongan cewek yang mengejar tahta dalam karir. Sebutan supervisor, manager, director, dan banyak sebutan tahta lainnya nggak pernah masuk dalam daftar mimpi gw. Why? Gw juga nggak paham banget sih kenapa gw nggak punya desire kayak teman-teman gw. Atau mungkin karena susunan mimpi gw sedikit berbeda. But, gw nyaman dengan yang sekarang.

“Kenapa nggak ngelamar di sini/di situ/yang ini/yang itu sih Giz?”

Iya, gw juga nggak paham kenapa gw nggak pengen.

I love writing, then be a writer. I love creating system, then be a SOP Consultant.  Beberapa tawaran nangkring bahkan tanpa tenggang masa, tapi gw-nya tetap nggak mau kerja kalau bukan di dua lingkup itu. Gw survive, dan really enjoy it. Iya, gw berada di Zona Nyaman.

Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi
Seperti orang-orang berdasi yang gila materi
Rasa bosan membukakan jalan mencari peran
Keluarlah dari zona nyaman

Pernah denger lirik yang barusan gw tulis? Kalau lo pernah nonton Filosofi Kopi 2, mungkin rada familiar sama lagu Fourtwnty ini.

Kata-katanya nusuk banget. Tentang ambisi, materi, dan rutinitas yang menjebak diri sendiri.

Gw punya mimpi yang gw susun rapi dan sedikit banyak berujung pada ambisi. Gw juga mengejar materi untuk kehidupan layak supaya papa mami nggak kepikiran di masa tuanya ngeliat gw yang kena ujan dikit aja demam. Dan, gw sering ngerasa terjebak dengan rutinitas sendiri. Even gw really enjoy zona nyaman, bosan tetap nggak bisa dihindari.

Coba lo tanya ke diri sendiri tentang ambisi, materi, dan rutinitas yang terjadi tiap hari. How is it?

Tiap orang punya, bahkan harus punya. Karena tiap orang punya mimpi dan kewajiban memenuhi ekonomi yang ending-nya punya rutinitas. Namanya juga hidup. Yang bikin beda adalah kadarnya. Mimpi yang menimbulkan ambisi tanpa memperhatikan baik dan buruk, benar dan salah. Materi yang berlebihan tanpa rasa peduli bahkan lupa bersyukur. Dan berakhir pada rutinitas yang menjabak makna kebahagiaan hidup itu sendiri.

Waktu ke waktu perlahan kurakit egoku
Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku
Ke – BM – an membukakan jalan mencari teman
Bergeraklah dari zona nyaman

Yap, dan tiba-tiba gw ngerasa harus keluar dari zona nyaman. Mungkin saatnya nemui skill baru, pertemanan baru, dan tentunya tantangan baru. Bergerak dari zona nyaman.

Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi

Kontrak kerja yang gw tandatangani tahun ini memaksa gw untuk anteng di kantor dengan jobdesc yang sedikit berbeda. Hmm, bismillah aja. Dengan hati, semoga zona kali ini membuat gw naik tangga. Amiin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: