Cerita Senja Suatu Ketika: Strawberry Tea (Surat Ke-3)

Jika bukan kopi, aku seperti tak punya pilihan lain sebagai partner di samping laptopku. Aku menyukai coffee latte sejak dulu, sejak bertemu kamu. Aku masih menyukai coffee latte, pun hingga sekarang. Tapi, kali ini laptopku berteman dengan minuman lain. Namanya strawberry tea.

Kau tau aku penderita OCD?
Obsessive Compulsive Disorder. Itu kata mereka para ahli psikologi. Aku tak tau, OCD ku telah mencapai tahap mana. Apakah aku harus memeriksakan diri ke psikolog atau dokter, aku enggan memikirkannya.
Aku cemas jika tidak menemukan kopi di samping laptopku. Aku cemas tidak akan bisa berkonsentrasi dengan dokumen word di depanku tanpa kopi. Aku lalu obsesi terhadap wangi dan rasanya. Menyukainya terlalu dalam.
Mungkinkah ini juga terjadi pada hatiku?
Aku cemas jika tidak mengetahui kabarmu. Tapi, aku tak punya nyali untuk menghubungimu. Mungkin ini bodoh. Setidaknya, aku tau kebodohan ini telah merasuki pikiranku sejak 7 tahun lalu. Aku obsesi terhadap rasa rindu padamu. Lalu kompulsif hanya dengan menulis namamu di keyboard laptopku, di tiap kali senja menyapaku.
Sekarang, aku mulai memberanikan diri menulis ditemani dengan strawberry tea. Masih dibawah senja yang sama dan tempat menulis yang sama. Tapi, warna minuman yang beda. Tidak lagi warna minuman cokelat muda, tapi warna merah muda. Kau tau aku tak suka warna merah muda. Tapi, aku mulai menyukai minuman ini.
Awalnya, aku takut mencicipinya dari sedotan warna hitam itu. Aku takut jika rasanya yang tak disukai lidahku akan berpengaruh pada tulisanku. Aku obsesif dengan rasa. Kau tau itu. Perlahan, cairan strawberry bercampur gula dan teh itu masuk ke mulutku. Aku sempat takut menelannya, tapi ternyata ketakutanku berlebihan. Rasanya tidak semenakutkan itu. Segar, lembut, dan cukup menenangkan. Untuk tegukan pertama, aku tersenyum.
Beberapa hari ini aku sering memesan minuman ini dan mencoba melupakan coffee latte yang selama bertahun-tahun menemani jemariku menari. Strawberry tea, aku suka minuman ini.
Bisakah aku melakukan hal yang sama dengan hatiku?
Haruskah aku mencoba rasa yang lain?
Dewi Senja sedang menari di ufuk barat. Sebentar lagi, ia akan menghampiriku di sini.
Bolehkah aku bertanya padanya kali ini?
Aku punya Dewa Malam yang cukup tau tentang ini. Tapi aku khawatir ia akan menertawakanku lagi. Dia suka sekali minum kopi. Apa katanya jika ia tau aku mulai tidak minum coffee latte lagi?
Aku ingin kompulsif pada rasa yang lain.

 Gizsya

Note: Cerita Senja Suatu Ketika adalah cerita fiksi yang dibagi menjadi beberapa cerita pendek. 
Sebelumnya: Cerita Senja Suatu Ketika (Surat Ke-2)
Selanjutnya: Cerita Senja Suatu Ketika (Surat Ke-4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: