Serial Rindu #8

Zia

Seminggu berlalu begitu saja. Alfa masih belum bisa aku hubungi. Dua nomor teleponnya yang selalu aktif tidak menyapa nada sambung. Sampai detik ini belum paham alasan Alfa marah sedemikian hebatnya.

Deadline tulisanku di depan mata. Aku harus ke Bandung untuk observasi lokasi yang akan kujadikan latar tulisan. Braga.

Aku memesan travel jam 7 malam dengan keberangkatan dari Sarinah. Pukul setengah tujuh malam, dan Sarinah di penuhi muda mudi yang sedang kasmaran. Aku kembali teringat pada Alfa. Kalau dia marah beneran, aku observasi dengan siapa?

Aku kembali memencet nomornya dan tetap tidak aktif. Rekan satu kosnya, yang juga sepupuku akhirnya menjadi tumpuan tanya tentang Alfa.

“Gw udah nggak se-kosan sama dia. Lah, kok lo malah nanya ke gw. Telfon langsung lah. Dia pasti langsung jemput lo. Pujaan hatinya mau ke Bandung.”

“Gw berantem sama dia.”

“Ha? Kok bisa?”

“Gw juga bingung kenapa. Yaudah, ntar di Bandung gw ceritain. Lo tolong bilang ke dia, gw nyariin dia.”

Tiga jam menunggu, ternyata keberangkatanku ditunda hingga jam 12 malam. Selama perjalanan aku mencoba mengirim pesan singkat pada Alfa untuk menjemputku di Baltos tentunya dengan permohonan maaf yang-aku-masih-bingung-kenapa. Tiga jam perjalanan dipenuhi pertanyaan kesalahan fatal apa yang aku buat sehingga Alfa benar-benar memblokir nomorku, sahabatnya sendiri.

Gila lo. Jadi selama ini lo nggak tau Alfa sayang setengah mati sama lo? Ampun deh, Zia. Gw kira gw doank yang jadi korban lo. Ternyata Alfa juga. Gw kira kalian udah sering jalan berdua, lo bisa ‘ngeh’ gitu. Lah, ini malah jadi begini.

Aku memutuskan untuk menanyakan tentang Alfa pada Radit, sahabat Alfa sekaligus teman dan sepupuku.

Gini ya, Zia. Lo inget nggak gw pernah nembak lo waktu lulus SMA dan lo tolak sambil ketawa-ketawa. Itu sakit, Zia. Tapi, gw tahu lo. Gw milih tetap jadi sahabat lo. Dan lo tahu, Alfa sayang sama lo jauh sebelum gw. Kita bahkan pernah berantem gara-gara lo. Walaupun gitu, gw tahu sayang Alfa ke lo, jauh lebih besar dari gw.

Sumpah, gw nggak ngerti Dit.

Wajar lah. Saraf peka lo kan emang nggak ada.

Yang bener aja, Dit. Lo nembak gw aja enam tahun yang lalu. Itu lama banget loh.

Lah, emang begitu. Ya emang selama itu juga dia sayang sama lo. Dia lagi sakit juga ngebelain nganter lo kemana-mana. Inget nggak waktu dia nganterin lo ke Tebing Keraton? Itu dia abis kecelakaan, bego!

Ha? Lo jangan bikin gw guilty gini donk.

Emang lo harus guilty lah.

Gimana gw bisa tahu dengan track record dia yang pacarnya gonta ganti terus, Dit.

Nah, kalau itu gw nggak paham. Lo tanya langsung. Tapi yang pasti, gw tahu dia sayang banget sama lo. Lo itu cinta pertama dia, Zia.

Hampir jam empat pagi dan semua whatsapp dari Radit membuat kepala ku pusing. Aku mencoba menelepon Alfa lagi, untuk menjemputku. Nada sambung akhirnya terdengar, tapi teleponku tak kunjung dijawab. Pesanku juga tidak dibalas. Aku kemudian memesan taksi dan menuju rumah kakak perempuanku.

Pagiku dibanjiri pertanyaan dan omelan dari Kakak sulungku. Kenapa naik travel malam? Kok nggak dijeput Alfa. Bikin khawatir aja. Blablabla.

“Aku berantem sama Alfa.”

Detik kemudian diisi dengan curhatan yang lebih banyak dijawab cengar cengir dari sang kakak. Sungguh tidak memberikan simpati sama sekali.

“Kakak tahu dari dulu dia suka sama kamu. Cuma kamu deh kayaknya yang nggak tahu.”

Seperti ditindih batu yang sangat besar tepat di atas dada. Aku merasakan sesak yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Alfa, telah kusakiti selama bertahun-tahun. Kata-kata ‘i love you’ yang kukatakan kepadanya membuatku semakin memaki diri sendiri. Begitu kejamnya aku pada sahabat sendiri.

Tiga hari di Bandung, aku sama sekali tidak bisa bertemu dengan Alfa. Ditambah kesibukanku untuk urusan deadline, Alfa sungguh menutup semua kemungkinan untuk bertemu.

 

Alfa

Zia mencariku ke Bandung?

Jam tiga dini hari, telepon membangunkanku dan membuatku tidak bisa tidur dengan pesan yang datang bersamaan. Sulit sekali menahan jari untuk tidak mengangkat telepon darinya. Tapi, Zia harus tahu, perasaan bukan permainan.

 

-4 bulan kemudian-

Zia

Alfa menghilang. Semua orang menyalahkanku dan menganggapku kejam. Ya, aku merasa bersalah. Namun, anehnya aku merasa semua akan tetap baik-baik saja. Alfa tetaplah Alfa. Dia akan kembali. Aku yakin.

Alfa

Zia tetaplah Zia. Aku mengira dia akan memohon maaf hingga mencariku ke kosan atau membanjiri ponsel dengan pesan maaf. Tapi aku salah. Dia tidak datang ke kosanku. Pesan maaf darinya tak lebih dari tiga kali. Sisanya hanya omelan menganggapku bukan sahabat yang baik karena meninggalkannya tanpa sebab. Ya, ‘sebab’ yang dia tidak pernah paham. Zia tetaplah Zia.

Sejak pertengkaran empat bulan lalu, aku menghanyutkan diri dalam pelukan Arina, kekasihku kini. Zia tak pernah menganggapku ada. Dulu, sekarang, dan mungkin selamanya. Zia yang kunanti tak pernah menatapku kembali. Aku masih ingin memilikinya, sialnya. Aku persis pecundang.

“Zia, Zia, Zia. Sampai kapan nama itu masih kamu sebut?” Wajah Arina memerah. Bukan karena rayuanku, tapi dia sedang marah. Untuk kesekian kalinya, masih tentang Zia.

“Kamu selalu diam kalau begini.”

Aku tak punya alasan, jawaban, atau penjelasan apapun untuknya. Semakin kubantah, Zia semakin mengisi semua sudut kepalaku. Dia hadir ketika aku di depan komputer, ketika aku terjaga dalam malam, bahkan ketika pelukan Arina melekat pada tubuhku. Rindu ini membuatku hampir gila.

 

-1 bulan kemudian-

Zia

Zia, aku di Jakarta. Can we start over, again?

Start over? Heh, yang ngilang lo ya. Tiba-tiba ngajakin start over.

Kali ini aku datang bukan sebagai Alfa yang dulu.

Apa bedanya. Lo tetap Alfa. Yaudah, minggu depan ketemu di Anomali Senopati. Cari di gmap kalau nggak tau. Okay?

Okay.

Pukul sebelas malam, whatsapp Alfa membuatku sumringah. Dia telah kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: