Netbook Maroon

Tiap mencoba menarikan jemari ini di atas keyboard, masih saja ku teringat pada netbook maroon kesayanganku yang menjadi milik orang lain tanpa izin.

Tepat 3 Januari sekitar pukul 2 siang bertempat di restoran cukup bonafit, tas dengan segala isinya di curi diam-diam oleh 2 orang pemuda. Penampilan mereka cukup rapi. Layaknya orang yang kerja kantoran dengan kemeja putih rapi dan sepatu pantofel. Namun ternyata penampilan menipu itu malah merenggut tasku dan segala isinya dalam hitungan detik.
Adanya CCTV di restoran tersebut malah membuatku semakin sesak karena tahu dengan jelas cara mereka mengambil tasku dengan cara yang sangat profesional. Hmm, ternyata CCTV hanya berfungsi memberi bukti, bukan menjadi pengintai kegiatan atau mengurangi kejahatan. Bahkan, CCTV hanya membuat aku semakin geram.
File kuliah bisa aku dapatkan kembali dalam sehari dari teman-temanku. Namun, file tulisan, data observasi, foto-foto riset di ponselku, dan kisah tentang ‘dia’ tak bisa aku ulang. Apa ‘dia’ marah aku menulis tentangnya tanpa izin? Tertinggal ending, aku hampir saja menentukan chapter terakhir kisahku dengannya. Namun, tenyata aku malah harus memulainya dari awal lagi. Apa aku bisa menulis kembali perasaan bodoh itu? Bersediakah kau kembali dan membuatku merasakan hal yang sama? Atau, apa kau tak rela aku segera mengakhiri semuanya? Baiklah, aku anggap iya.
Begitu indah cara Allah mencintaiku.
File tulisan yang sudah aku kumpulkan sejak 2 tahun terakhir hilang dalam hitungan detik. Sebelumnya, tanggal 2 Januari aku telah mendeklarasikan sebuah janji yang filenya ada di netbook tersebut. Namun, maaf Lily, aku harus menundanya. Aku harus tulis dari awal. Tapi, aku janji tahun ini deklarasi itu akan aku penuhi..!
Begitu indah cara Allah mengingatkanku akan cinta-Nya.
Sering aku terjaga hingga pukul 4 pagi hanya karena menarikan jari ini di atas keyboard netbook maroonku. Namun, frekuensi qimulail ku kian berkurang. Aku terlalu asyik dengan hobi dan terlalu semangat akan mimpi hingga lupa dengan beberapa rutinitasku yang dulu. Maaf Allahku…
Maha Besar Engkau dengan segala cara-Mu mencintai hamba-Mu yang sering lupa cara mencintai-Mu. Maaf, aku lupa sering lupa menyapa-Mu di qimulailku.. Sungguh.., terima kasih Kau telah mengingatkku. Tetaplah peluk mimpi hamba-Mu ini ya Allah..
Minggu, 8 Jan 2012
9.40 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: