I’m not a Common Enemy…


“Hai kakak. Salam..” ucap Fahmi lugu sambil menarik tanganku dan mencium jari-jariku. Ia menyalam tanganku penuh damai. Itu yang ia lakukan terhadap 14 orang teman-temanku yang ada diruangan itu. Fahmi lalu menuju rak buku perpustakaan dan mengambil beberapa buku.

“Kak, baca..Kak, baca..” Ia tiba-tiba saja mengambil posisi duduk bersila di sampingku. Senyum lebarnya membuatku bingung. Ia terus membolak-balik buku berjudul “Fakta-Fakta Dunia Hewan” dan membuaku semakin bingung sebab tak kulihat matanya focus pada buku itu. Kepalanya terus bergerak kesana-kesini dan matanya terus berputar atas bawah kanan kiri sambil tangannya yang beberapa kali memukul lembut lengan kananku.

Lintar, Ana, dan Kak Tia tersenyum melihatku yang berusaha mengajari Fahmi membaca namun tak kunjung mampu membaca satu kata pun. Ia terus membolak-balik buku. Tutup, buka lagi, tutup, buka lagi. Aku semakin bingung dan akhirnya kak Tia mendekati kami berdua.

“Fahmi, bukunya taroh ya.. Kakak mau rapat sama yang lain. Kenalin, kakak ini namanya Kak Neira. Fahmi pulang dulu ya.. Nanti baru datang lagi.. ya..?” Ucap Kak Tia lembut sambil memegang kepala Fahmi agar fokus melihat wajahnya. Namun setelah Kak Tia melepasnya, Fahmi kembali menggerakkan kepalanya kanan kiri sambil berkata, “ Pulang? Mau rapat?”

“Iyya, bukunya letak disana lagi ya?” Lanjut Kak Tia lalu menarik tangan Fahmi untuk berdiri. 

Aku tetap diam dan hanya melihat Fahmi dan hatiku terasa miris.
Fahmi lalu meletakkan buku tersebut, namun “Gubrak..!”. Ia menjatuhnya buku-buku di rak nomor  dua dan Ana berteriak, “Huuhh, dasar common enemy..!”
Fahmi tak berkata satu kata pun. Ia lalu lari keluar tanpa berpamitan. Aku mengejarnya namun Kak Tia melarangku.

“Nggak usah Ra. Biarin aja. Bingung ya..?” Ucap Kak Tia sambil memberesi buku bersama Ana. Aku menghampiri mereka.

“Kak, dia kenapa..?” tanyaku polos.

“Keterbelakangan mental.” Jawab Kak Tia pendek. Lalu aku terdiam.

Setelah merapikan buku yang berserakan, kami pun rapat membahas kegiatan baru untuk bulan ini. Dan 15 menit kemudian, aku diajak berkeliling melihat keadaan masyarakat sekitar. Kepalaku masih sja penuh dengan wajah Fahmi yag lugu. Namun, aku sendiri tak tau apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya lagi. Itulah yang membuatku tak focus berjalan, hingga aku tersandung batu dan hampir saja mengaplikasikan gravitasi bumi untuk merebahkan badanku ke tanah. Namun, reflex Kak Tia menahanku dan memegang tanganku.  Kak Tia tersenyum. Aku yakin, ia bisa membaca wajahku yang sedang tertulis tanda tanya besar dikeningku dan bibir ingin bertanya  banyak padanya. Namun, ia malah tetap saja jalan dan menarik tanganku.

“Apa memang begini sikap psikolog?” Pertanyaan itu muncul dari rongga-rongga otakku, namun tak terucap oleh bibirku. Hmmm..

Aku terus berkeliling masuk gang ini, gang itu. Gang yang hanya cukup dilewati dua orang secara horizontal. Dipastikan, hanya mampu lewat satu motor di gang ini. Kanan kiri…. ibu, bapak, anak muda dan setengah baya mengekspresikan dirinya. Ada yang berkelakar cengar cengir, bercerita layaknya sedang menjual obat, tertawa, bahkan menjerit. Dan tak satupun dari mereka tak menyempatkan diri menoleh kearahku, berwajah sinis dan terus melihatku. Aku hanya mengangguk dan mengucap “Selamat sore” dengan ramah, namun tak satupun dari mereka menjawab salamku. Sementara Kak Tia terus berjalan di depanku, seakan tidak memperdulikanku yang dilanda kebingungan dan sedikit takut melihat sorot mata mereka. Aku baru sadar. Aku telah masuk dilingkungan yang ternyata sempat diblacklist oleh pemerintah karena kriminalitas yang begitu tinggi.



Begitu standar, aku mengira Fahmi layaknya anak berketerbelakangan mental yang lainnya. Ketidakberuntungan yang diperoleh sejak lahir. Namun, ternyata tak sesederhana itu. Kak Tia terus mengajakku berkeliling dan ternyata ia berniat memberi jawaban atas segala pertanyaan yang bergelantungan diotakku.  

“Banyak orang seperti Fahmi di sini Dek.. Bahkan ia masih lebih berutung dari yang lain.” Kak Tia mengawali cerita. Ia menghela nafas lalu matanya bergelandang ke atas seolah mengulang memori lama yang tak ingin diingat. Dan aku tak berniat mengganggunya. Aku pun langsung mengambil posisi duduk senyaman mungkin dan mendadak menjadi pendengar budiman.

“Jangan duduk disitu. Kita shalat dulu dirumah kakak. Ntar aja ceritanya…” Kak  Tia membuatku kecewa. Aku pun berlari kecil mengejarnya yang telah berjalan beberapa meter didepanku.

Jika hari ini aku tak bertemu Fahmi atau aku tak terjebak rayuan Lintar untuk masuk ke organisasi social ini, mungkin aku akan menjadi gadis berusia 19 tahun paling naïf sedunia, minimal seantero kampus. Fahmi adalah bukti nyata yang membuatku miris betapa kejamnya Jakarta.

“ Bahkan, sekarang yang merawatnya itu bukan orang tuanya..” Kak Tia memandang hampa ke depan.

Fahmi, anak kecil berusia 7 tahun itu tak punya sanak saudara. Ia ditinggalkan oleh ayahnya saat berusia 2 tahun. Dan ibunya mampu bertengkar dengan hati nurani untuk meninggalkan Fahmi di depan rumah adiknya. Sempat Fahmi ditelantarkan oleh paman dan bibi kandungnya itu. Ya.., mereka juga tak cukup punya uang untuk membelikan Fahmi susu setiap hari. Tapi, Allah sungguhlah adil. Ia sehat tanpa asupan banyak susu. Namun, ia harus menerima keadaan dirinya yang tak mampu berkomunikasi dengan orang dengan baik. Bahkan dianggap sebagai common enemy…!

“Nggak ada yang mau main sama dia, Dek..” Kak Tia melanjutkan cerita.

Kulihat Fahmi berlari menuju sekumpulan anak-anak seusianya yang sedang bermain bola, namun seakan melihat ular yang begitu berbisa.., mereka lari kocar kacir meninggalkan Fahmi sendiri. Lalu Fahmi mengangkat tangan kanan dan kirinya secara bergantian, ia kembali hiperaktif dan terus  mengences, membasahi dagunya. Ia lalu terlonjak-lonjak sambil mengacak-ngacak rambutnya. Aku memandanginya dari jauh. Aku ingin melihat wajahnnya namun ia terus bergerak tak menentu membuatku semakin iba. Air wajahnya tak mampu aku defenisikan. Tiba-tiba aku merasa ada air yang mengalir di sela-sela hidungku, lalu terasa basah dipipiku.. aku tak sadar bahwa mataku telah basah. Lalu aku mengetahui satu hal yang sulit aku bayangkan. Ayah Fahmi meninggal karena over dosis saat menikmati ganja. Dan ibunya pergi dengan seorang pria tak dikenal dengan pakaian serba hemat yang tak mampu menutupi tubuhnya. Tinggallah Fahmi sebagai anak yang tak pernah dianggap ada oleh keluarganya. Paman dan bibinya hampir tidak pernah mencium keningnya atau membujuknya ketika ia menangis. Dan aku disini terpaku dalam pandangan lurus kearah anak berkulit kuning langsat itu dan sekarang mataku sudah tak mampu melihat jelas sebab telah penuh oleh air.

5 Comments

  1. "Dan ibunya mampu bertengkar dengan hati nurani untuk meninggalkan Fahmi …." Good sentence,,,

    Is it true story?

    Excelent,,,

    Voice Humanity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: