kLeo..,

Hari ini bumi  seakan berlari marathon mengelilingi matahari. Langit biru menyejukkan hari dengan suara burung gereja nan merdu yang asyik beterbangan riang di atas genteng kamarku, lalu kakinya yang kecil-kecil itu kian sering membangunkan aku dari tidur.., suara kakinya itu lembut, begitu hangat mengajakku untuk membuka mata dan menjelajahi dunia hari ini. Embun pagi yang membuat daun-daun menjadi segar di depan kamar seakan membasuh mataku ikut segar. Itulah indahnya langit pagi, ia sejuk. Namun, ketika warna hitam seakan jatuh di lukisan langit biru indah Tuhan Sang Penguasa Jagad Raya ini, ia hadir  tanpa manik-manik bintang. Jika ada bulan, aku tak ingin melewatkannya untuk sekedar memberi senyum kepadanya. Namun, tak pernah kulihat bintang. Manusia dengan segala keangkuhan duniawi membuat bintang enggan bertamu di atas langit Jakarta. Aku rindu dengan kampong kelahiranku, Rawang. Sebuah kabupaten kecil di Sumatera Utara yang memiliki cat lukis hijau sebagai dominan. Rawang membuatku rindu pada bintang. Rindu menghitungnya tanpa henti yang sebenarnya sering membuatku bingung bintang mana yang sudah aku hitung dan yang mana yang belum. Tapi, aku suka..
Aku, Neira.., gadis cantik         menurut ibuku yang luar biasa, ayahku terbaik sedunia, kakakku yang paling lembut sejagat raya, abangku yang dingin berhati lembut, dan aku yang cantik — , bertinggi 165 cm  —  ya.., aku tak pernah mendapat predikat gadis semampai — , berkulit kuning, dan tak banyak bicara.
Menyandang status mahasiswa di usia 16 tahun membuatku kehilangan 2 tahun masa sekolah yang indah. Ah, aku dapat dikategorikan sebagai gadis yang‘tua’ terlalu dini. Aku tak mau sebenarnya. Namun, ternyata garis garis tangan ku berkata hal demikian. Tuhan Yang  Maha Kuasa  menulis skenario hidup untukku dengan begitu misterius. Namun, begitu indah. Dia benar-benar sutradara tiada tandingannya.
***
Kopaja 66 adalah bus setia yang selalu menjemputku tiap pukul setengah dua siang di seberang kampusku. Lalu ia membawaku menuju Manggarai dan menurunkanku di persimpangan lampu merah Pasar Rumput. Ini adalah rutiniatas ku tiap Rabu.
Dan ini Rabu. Monoksida memasuki hidungku dengan perlahan tapi pasti. Namun, aku telah terbiasa dengan polusi udara yang mengepul, merupakan bukti konkrit bahwa Jakarta mengambil andil cukup besar dalam mengikis lapisan ozon.
Kopaja 66 setiaku melewati jalan layang Setia Budi. Aiih, gedung-gedung menjulang sudah seperti biji kecambah yang tumbuh dalam waktu 2 hari dalam rendaman air, lalu ia tumbuh kejar-kejaran siapa yang tertinggi dan berhasil menyerap air terbanyak. Alhasil, air resapan di Jakarta habis diisap oleh keangkuhan Jakarta. Dan, kabar burung alias gosip yang dibumbui ramalan bahwa Jakarta akan terkena gempa, hmmm.., membuatku skakmat berpikir, “Kemanakah aku harus berlari nanti?”
Lily, sahabatku duduk dengan rapi disampingku berlagak seolah berpikir keras.., ahh, mungkin dia sedang ,memikirkan akun mana yang membuat tugas balance sheet-nya tak balance hari ini. Leherku membawa mata cipitku kearah ibu dan anak yang duduk berseberangan kursi denganku. Aku terhipnotis adegan ibu yang menggendong anaknya dalam dekapan yang begitu hangat. Entah mengapa, naluriku menyuruh untuk menguping.
“Leo, kalau ibu nanti nggak ada, kamu jangan mau tinggal sama Bapak, ya..” Ucap ibu berpakaian lusuh itu sambil mengelus rambut gadis yang duduk dipelukannya. Aku duga gadis kecil berambut ikal itu berusia 6 tahun.
“Kenapa, Bu?” Tanya gadis kecil itu.
Matanya yang bulat berbinar memperlihatkan air wajah yang takut akan kehilangan ibunya.
“Pokoknya, Leo harus lari dan jangan mau tinggal sama Bapak..” Ibu itu memeluk anaknya penuh  sayang, didekapnya erat, membuat gadis itu tak mampu berkata merasakan luapan cinta ibunya lewat pelukan hangat itu.
Ketika ibu itu menoleh padaku, aku mahfum segan. Ia berusaha tersenyum membalas senyumku yang tergolong cukup kaku. Tapi, hal tersebut tak mampu menutupi ketakutan di matanya.
Menguping percakapan singkat tersebut, jelas membuat saraf-saraf di otakku bingung harus menyatakan apa. Siapa pun yang menjadi anaknya, seusia berapa pun, pasti takut mendengar perkataan demikian. Ibu dan anak itu turun tepat di depan Pasar Rumput. Ternyata gadis kecil itu menangis dipelukan ibunya. Dan, pelukan itu jelas terlihat semakin kencang.
“Nei, dah nyampe. Ayo turun.” Lily membangunkanku dari lamunan pemandangan yang aku tak mampu memberi judul akan apa tentang itu. Aku hanya tau, itu bertema kasih sayang ibu dan anak diselimuti ketakutan yang tak bisa aku deskripsikan.
Aku langsung berdiri, “Lampu merah, Mas..” Lily mengetok pintu beberapa kali memberi isyarat pada mas supir Kopaja untuk mengerem. Kami pun bergegas menuju yayasan sosial peduli anak diseberang jalan.
Aku dan Lily sama-sama berstatus volunteer di sebuah yayasan sosial peduli anak. Lily bertanggungjawab sebagai tukang buku alias pengurus rak-rak berisi berbagai jenis buku yang nama kerennya disebut sebagai koordinator perpustakaan. Dan aku bertugas sebagai tutor sains study group di yayasan tersebut.
Ironinya, yayasan sosial tempat aku mengembangkan diri ini adalah yayasan yang dikembangkan oleh Korea. Nama yayasan itu Pelangi Anak.  Lihat Kawan, Korea..! Bukan Indonesia..! Pernah aku datang ke yayasan sosial peduli anak di bawah naungan pemerintah Indonesia, kau tahu Kawan., yang aku lihat adalah perpustakaan dengan buku bekas. Buku pelajaran mulai dari kurikulum 1994 bahkan buku yang aku tak kenal kurikulum zaman kapan. Buku-buku itu diselimuti debu yang enggan pergi dan rayap yang bersenang ria menggerogoti kertas-kertas buku itu. “Bagaimana anak-anak berminat untuk baca?”. Demikian pertanyaan yang bertengger dikepalaku. Dan tempat itu diberi nama ‘Taman Baca’..!
Leo, aku kembali memikirkan gadis kecil itu. Namanya Leo, tapi jelas wajah cantiknya itu menunjukkan bahwa ia perempuan, walaupun rambutnya pendek. Besar inginku untuk membawa gadis kecil itu ke yayasan sosial itu. Melihatnya tersenyum bermain bersama anak lainnya.  
***
Tak seperti biasanya, hari ini Lily tak bisa menamaniku ke yayasan sosial ‘Pelangi Anak’. Dia memilih untuk tetap berada di ruangan bersuhu 18 derajat Celcius di kampusku itu. Alasannya cukup amanah dan bertanggung jawab. Gadis supel yang kurang rapi itu harus menghadiri gladi resik atau sering di sebut ‘jiar’ kegiatan kampusku. Dan dia, bertanggung jawab untuk menjaga registrasi.., “Kendurkan urat kepala!” Demikian yang dia katakan tentang posisi itu. Posisi yang mengharuskannya senantiasa senam wajah. 
Aku pun bergegas menemui Mas Kenek Kopaja 66 untuk sekedar menambah Rp 2.ooo,- setorannya hari ini, menuju yayasan Pelangi Anak. Di halte, aku melihat sesosok gadis kecil yang membuatku terperanjat. Leo..! Ya, aku yakin dia Leo!
Aku ingat betul wajah Leo dengan air muka yang lugu, manis dan jenaka itu. Tapi, kali ini mata indahnya itu basah. Benar-benar basah. Ia duduk lemas di halte bus seberang kampusku. Ia mengenakan baju yang sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya di Kopaja minggu lalu. Kaos berwarna kuning bergambar Mickey Mouse itu telah lusuh, lebih lusuh dari minggu kemarin. Celana panjangnya yang terbuat dari bahan katun berwarna cokelat terlihat jelas telah dinodai banyak debu.  Namun, ada yang berbeda dengan pemandangan kali ini. Aku tak menemukan ibunya!
Aku mencoba mendekati Leo. Manusiawi, aku serasa masuk dalam pancaran matanya yang basah, membuat semua bulu kudukku berdiri. Aku merinding. Ketakutan dimatanya mampu menghipnotisku sesaat. Selangkah, dua langkah, aku mendekatinya dan aku melihat katakutan dimatanya semakin mendalam. Ia mendekap dua kakinya dan mencoba memasukkan wajahnya dicelah dua kakinya. Tangan kanannya menggenggam dengan erat pergelangan tangan kirinya, lalu ia gemetar. Sekelilingku seakan tak melihat apa-apa. Tak melihat Leo gadis kecil itu menjerit-jerit didalam hati.
“Leo..?” Aku mencoba berbicara kepadanya. Dan tangannya semakin erat menggenggam, matanya semakin basah.
“Ibu..”  Bibir mungilnya terbata menyebut perempuan yang paling disayanginya itu.
Diam. Aku seakan diguyur hujan es. Beku dan tak mampu berkata. Tiba-tiba ponselku berdering. Terpampang nama Kak Nila, koordinator volunteer yayasan Pelangi Anak. Dan tanpa sadar aku menekan OK.
“Nei, kamu dimana? Anak-anak dah  nungguin..”
Aku tak menjawab sepatah kata pun. Lalu jempolku menekan tombol memutus telfon tersebut. Aku melihat Leo berlari menaiki tangga penyeberangan. Ia terisak. Kakinya yang tanpa sandal itu merah. Tangannya terus rapat memeluk dadanya sendiri. Dan, aku tak tega melihat matanya. Aku semakin teriris. Seketika aku bingung antara Leo dan 25 anak yang menungguku disana. Aku kaku sejenak, lalu entah apa yang membangunkan otot kakiku, aku menaiki Kopaja 66 arah Manggarai yang melintas di depanku.
***
Seperti tersengat satu lebah yang tersasar dari kawanannya, begitu sakit dan membekas. Aku terus memikirkan Leo, membuatku tak maksimal mengajar. Leo, Leo, Leo. Namanya menjadi headline dikepalaku. Usai mengajar, aku segara pulang tanpa menyapa yang lain. Tidak, aku tak ingin pulang. Aku harus mencari Leo!
Kopaja 66 membawaku turun di halte depan kampusku. Aku langsung mencari Leo. Bertanya pada mas penjual puzzle di jembatan penyebrangan, pada bapak tua yang meminta sedekah di tangga, dan pada ibu penjual gorengan di pinggir jalan  untuk mencari secerca info tentang Leo. Dan tak satu pun tau. Ntah rasa apa yang bertahta didalam hatiku itu. Aku tetap urung untuk pulang, menjadikan Leo sebagai misiku malam ini, Aku berjalan ke arah yang sebenarnya bukan arah kostanku. Tiba-tiba aku melihat sesosok anak yang aku cari, dan bibirku tergerak memanggilnya dengan keras.
“Leo..!”
Mendengar  suaraku, Leo seketika berlari seperti melihat hantu. Dan tanpa berpikir panjang, aku mengejarnya. Kelincahannya berlari, mambuatku tak berhasil mengejarnya. Aku tak menemukannya. Lalu, aku mematung di pinggir jalan. Ada rasa risau untuk gadis kecil itu.
“Kleo..” Seorang nenek mendekatiku. Ia meletakkan tampah berisi berbagai jenis gorengan, ada risol, pisang goreng, ubi, tempe, dan cireng yang jumlahnya sudah tinggal  beberapa potong.
“Namanya Kleo..” Agaknya nenek tadi mencoba meyakinkan. Ia mendekatiku seraya memberi isyarat kepadaku untuk duduk di pot bunga pinggir jalan itu. Anehnya, aku mengikuti isyarat itu.
“Namanya Kleo. Nenek bertetangga dengannya.” Nenek itu terus menyebut Kleo. Dan..
“Nenek merasa sangat bersalah tidak bisa menolongnya sama sekali. Nenek malah melarikan diri. Maaf..” Aku bingung bukan kepalang. Matanya meneteskan air dipipinya, lalu ia memegang bahuku, menatap tajam mataku, aku mematung.
“Saat lahir, ibunya memberi nama Kleo. Ia  bayi yang cantik. Tapi, begitu tau niat suaminya yang akan menjual anak perempuannya saat ia berusia 6 tahun, ia selalu memanggil anaknya itu Leo. Ia mendidik Kleo menjadi seorang anak laki-laki yang kuat.” Sorot matanya yang tajam dengan basuhan air mata yang membuat matanya berkaca membuat saraf sensoriku kabur kocar-kacir. Aku tak mampu berkata. Dan.., aku memang tak ingin menanggapinya dengan kata-kata.
“Tapi, Leo tetaplah Kleo. Kami berdua tak bisa menyembunyikan ini terlalu lama. Saat usia Kleo mencapai 5 tahun, ayahnya tau bahwa ia perempuan. Sejak itu pula, Kleo tau namanya yang sebenarnya.”
“Lalu, dimana sekarang ibu Kleo?” Aku angkat suara. Nadaku lirih.
“Arini….” Nenek itu terisak. Ia menunduk. “Itu sebabnya Kleo menjadi seperti itu. 3 hari yang lalu, Jarot membunuh Arini. Dia preman besar di daerah kami.” Ia semakin terisak.
“Jarot..?” Tanyaku bingung.
“Arini, terbunuh di depan mata Kleo. Oleh ayahnya sendiri..!”Kata-katanya membuatku mampu merasakan darahku mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seakan seluruh ototku ikut iba, kaku.
“Malam itu, dengan mata yang sembab Kleo masuk ke rumah nenek tanpa izin. Ia memeluk Nenek dan memberikan gambar ini.” Nenek itu memberikan secarik gambar. Coretannya banyak. Seorang perempuan dengan tubuh bersimbah darah. Warna merah menjadi dominan dan aku tak kuasa melihatnya.
“Sepertinya, malam itu Kleo mengintip dari kamar. Jarot terus mencari Kleo, namun ia berhasil kabur. Pagi setelah Kleo memberi gambar ini, dia udah nggak ada di rumah Nenek. Kemarin, Nenek baru ketemu dia lagi di halte itu” Nenek itu menunjuk ke arah halte depan kampusku.
“Dia tak mau bertemu nenek. Dia lari..”  Nenek itu semakin terisak. Aku memeluknya.
“Jangan sampai Jarot menemukannya.” Nenek itu melepas tangannku yang memeluk dirinya. Lalu, ia bergegas meninggalkan aku yang masih mematung.
***
 ”Aku harus menemukan Leo.” Demikian batinku begitu bergejolak. Namun, aku takut akan satu hal. “Dia preman besar di daerah kami.” Kata-kata nenek yang aku bahkan lupa menanyakan namanya cukup membuatku takut. Sepertinya lelaki itu telah kebal hukum dan punya banyak dalih untuk kabur.
Hari ini Lily tak masuk kuliah karena harus survey lapangan bersama panitia lainnya. Tanpa pikir panjang, pagi ini aku langsung bergegas mencari Kleo. Nenek itu sempat memberitahuku daerah tempat ia tinggal. Tempat itu di daerah Manggarai.
Dalam dua puluh menit, aku berhasil ke tempat sesuai penjelasan nenek malam itu. Tempat itu kumuh. Tumpukan sampah di mana-mana. Banyak rumah yang beratap kardus. Sepuluh menit aku berjalan mencari Kleo maupun nenek waktu itu.  Dan..,
“Kleo..!” Teriakku kencang saat melihatnya. Ia duduk di serambi rumah kardus yang sepertinya hampir rubuh.
“Leo…, bukan K..eo..” Kleo tak bisa menyebut nama aslinya. Matanya sembab, sepertinya air matanya telah habis. Yang ada dipikiranku hanya ingin membawa Kleo pergi dari tempat ini.
Kleo menggenggam tanganku erat, erat sekali, lalu lepas perlahan. Entah mengapa tiba-tiba mataku seakan kabur. Perlahan semua menjadi gelap. Aku lemas, dan tak berdaya. Aku mendengar jeritan Kleo keras sekali, “Kaaakkkk…!” Panggilan itu memasuki telingaku dengan isakan dan membuat aku teriris. Apa karena mataku basah, lalu penglihatanku menjadi kabur? Aku mencoba menggerakkan otot kakiku untuk mengejar Kleo. Namun, seperti dipaku, kakiku tak berdaya sama sekali. Lalu, aku benar-benar terjatuh ke tanah, dan semua gelap.
***
“Neira..” Aku seperti mendengar suara Lily, tapi…
Aku mancari tangan mungil Kleo yang tadi aku genggam. Tapi, aku tak merasakannya. Bahkan, aku tak mampu mampu mengangkat tanganku sendiri. Sekuat mungkin aku menggerakkan jariku dan membuka mata.
“Nei, sekarang Lo di rumah sakit..” Suara Lily kembali masuk perlahan ke telingaku. Ia mengenggam tanganku gemetar.
“Nenek menghubungi polisi dan Jarot tau. Sebelum polisi datang, Neira sudah bersama Kleo. Karena panik, Jarot menembaknya dan membawa Kleo. Maaf, Nak..” Kali ini, suara nenek penjual gorengan itu. Ya, aku ingat jelas.
Dan.., aku tau bahwa Kleo tak di sini. “Kleo, kamu baik-baik aja? Maafin kakak..” Lily menghapus air mata yang menetes di pipiku.
Senin, 6 Juni 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: