Jakarta: Bocah Laki-Laki dengan Dua Ayah

Aku sedang menulis di salah satu restoran cepat saji pusat perbelanjaan di daerah Kuningan, Jakarta. Aku sudah menghabiskan satu paket nasi, segelas green tea latte, dan sekarang tersisa segelas strawberry tea sebagai teman di samping laptop hari ini.
Sedari aku duduk sejak jam sembilan pagi hingga jam makan siang sekarang ini, sudah bergantian orang duduk di kursi depan tempat aku menarikan jemari untuk deadline ini. Dan, mereka yang duduk di meja bulat dengan tiga kursi di depanku kali ini membuatku bergidik.
Dia seorang lelaki paruh baya dengan kaos berwarna biru muda dengan sun glass berwarna cokelat. Dari parasnya, ku yakin dia bukan orang Indonesia. Ku dengar samar, dia menggunakan Bahasa Inggris ketika memesan minuman kepada pelayan yang jaraknya dua meter dari tempat aku duduk. Ada bocah laki-laki berusia sekitar 5 tahun dengan rambut keriting dan kulit putih yang sungguh menawan. Lelaki paruh baya itu kemudian menyuapinya dengan ayam goreng yang sudah disuwir kecil-kecil.
Sesekali, bocah laki-laki itu berlari di sekitar tanpa rasa bersalah ketika si lelaki paruh baya itu mengejarnya dengan nasi di kepalan tangan. Aku geli melihatnya. Kemana ibunya? Pikirku.
Selama lima belas menit, aku terus menikmati pemandangan lucu di depanku itu.
“Sit down.”
Beberapa kali ku lihat lelaki berkaos biru muda itu meminta si bocah kecil sedikit tenang untuk menyelesaikan makan siangnya. Tapi, tetap saja si bocah lari, lompat, dan jumpalitan dengan riang. Lelaki itu sabar sekali.
Lima belas menit kemudian, datang seorang lelaki paruh baya lain dengan kaos putih dan celana jeans cokelat. Dia memiliki kumis dan janggut yang bertautan rapi. Terlihat sangat gentle sekali. Sungguh! Tinggi badan dengan otot-otot yang tersusun rapi jelas menunjukkan dia rajin mengunjungi tempat fitness atau minimal rajin lari pagi.
Lelaki itu juga menggunakan Bahasa Inggris ketika menyapa bocah kecil itu. Dia mendekati lelaki berbaju cokelat lalu mendaratkan pipinya pada pipi lelaki berkaos biru muda itu.
What the…
Lelaki berbaju putih itu kemudian membantu menenangkan si bocah kecil dengan memeluknya. Dari gerak-geriknya, jelas sekali ini bukan pertama kali dia menggendong hangat bocah itu. Si bocah kecil juga kegirangan bukan main dalam pelukan kekar lelaki berkaos putih itu.
Aku memerhatikan sekitar yang sungguh cukup ramai untuk melihat pemandangan yang membuatku kaget bukan kepalang.
Wahai, Jakarta. Mengapa kau sungguh mengagetkan. Aku cukup kaget ketika melihat pasangan gay bergandengan tangan di mall, berciuman di parkiran mobil selepas menonton film di XXI, dan bermesraan di restoran cepat saji. Tapi, setidaknya aku melihat itu semua selalu saat malam tiba. Bukan, di jam makan siang dengan wara wiri segala usia di tempat umum seperti ini.
Lalu, mengapa kali ini aku harus meyakinkan diri bahwa mereka sedang membesarkan seorang anak? Bagaimana perkembangan psikologis anak itu nanti? Haruskah aku membuang pikiran negatif setelah melihat adegan di depanku tadi?
Oh, Jakarta….
(Based on true story)
Gizsya
Kuningan, 2.21 pm, 24.10.15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: