Dirgahayu 70 Tahun Indonesiaku!

Dirgahayu 70 tahun Indonesiaku..
I have done nothing for u, my Indonesia. I wish I could love u the best way I must.
17 Agustus.
Dulu, zaman gw di putih merah, setidaknya gw bisa meriuhkan arena tujuh belasan dengan mengikuti lomba makan kerupuk, lari karung, atau lari kelereng. Dulu, zaman gw di putih biru sebagai anggota Pramuka, setidaknya gw bisa ikutan parade membentuk burung garuda sambil melompat lincah dengan tongkat stok atau mejadi pasukan pelantun lagu Indonesia Raya. Dulu, zaman gw di putih abu-abu sebagai anggota OSIS, setidaknya gw dan rekan-rekan bisa menghias mading dengan tema merah putih, mengadakan lomba membuat puisi bertema nasionalisme, atau menjadi salah satu pasukan pengibar bendera. Ah, masa-masa itu
.

17 Agustus.
Setelah menjadi pelajar tanpa seragam, merah putih tujuh belasan kurang terasa. Masa-masa aktif BEM, setidaknya sempat mengadakan kegiatan sosial. Tapi, hanya sampai disitu. Gw nggak pernah ikut upacara bendera selama masa mahasiswa. Kenapa di masa kuliah tidak ada rutinitas hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya? Ah, mungkin karena kami sudah dianggap paham betul tentang nasionalisme.
Wahai Indonesiaku. Maaf, aku sudah jarang memberi hormat pada sang saka merah putih. Maaf, aku sudah tak lagi menjadi pengibar sang merah putih. Maaf, aku sudah tak pernah lagi menjadi pasukan pelantun Indonesia Raya. Maaf, aku tak lagi berlarian membuat dekorasi merah putih. Tapi, percayalah. Aku masih mencintaimu, Indonesiaku.
Dirgahayu Indonesiaku. Sekarang, aku hanya bisa berdoa selalu untuk kesuksesanmu.
17 Agustus.
Jika pada tanggal ini banyak opini tentang kemerdekaan atau mengusik segala pemerintahan yang katanya belum maksimal, ahh sudahlah.
Segala sesuatu butuh proses. Untuk menjadi yang baik, butuh banyak lika-liku. Kupu-kupu saja punya metamorfosis, maka keyakinan untuk suatu hari Indonesia menjadi negara bersinar pasti ada.
Masa tujuh belasan, saatnya untuk mengucapkan terima kasih terdalam pada para pahlawan yang dengan sepenuh hati, jiwa dan raga memperjuangkan kemerdekaan. Mereka yang nggak punya waktu nonton drama korea, nonton di bioskop, nongkrong di McD, malam mingguan di Taman Suropati, atau main flying fox sambil tersenyum dan terbahak. Kakek gw yang seorang veteran bilang, mereka lebih sering menghabiskan waktu sembunyi di hutan menyiapkan strategi perang, membuat bambu runcing, dan melawan sekutu sambil berteriak ‘merdeka!’. Kalau gw ada di zaman itu, gw bisa apa ya?
Dengan mengingat perjuangan para pahlawan, setidaknya mampu mengingatkan kita bahwa perjuangan menjadi lebih baik tidak pernah berhenti. Terlalu muluk untuk bermimpi mengubah Indonesia menjadi negara super yang banyak bla bla bla seperti para politisi. Berusaha untuk diri sendiri dengan menjadi yang terbaik, setidaknya mampu memberi manfaat untuk lima orang di sekitar, itu lebih dari cukup. Jika ada 1000 pasukan ini, maka akan lebih banyak perubahan yang terjadi dengan menjadi lebih baik. Entah dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, atau apapun. Indonesia akan menjadi negara yang ‘cantik’ jika semua rakyatnya berusaha menjadi pecinta negara yang baik.
Indonesia, aku mencintaimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: