Cerita Senja Suatu Ketika: Jingga! (Surat Ke-1)

Jingga menembus kaca yang sekaligus jadi dinding tempat aku sekarang duduk. Warnanya membuat beberapa pantulan oranye di monitor laptopku. Di belakang kursiku, duduk seorang bapak yang sedari tadi berbicara lewat telepon. Entah dia sadar atau tidak, suaranya seperti speaker. Aku mampu mendengar dengan jelas percakapan dia dengan seorang perempuan di ujung telepon itu. Mereka sedang mendiskusikan tentang hubungannya. Beberapa kali ku dengar suaranya meninggi. Entah apa sebab masalah mereka. Tapi, yang ku dengar jelas mereka tengah bertengkar, melalui telepon, di depan umum, di suatu senja.
Senja.
Ada satu novel bersampul cokelat tergeletak tak berdaya di samping laptopku. Beberapa kertas dengan post-it kuning dan hijau mewarnai meja putih tempat aku mendudukkan manis laptop hitam yang usianya sama dengan usia merantauku. Sebuah pena dengan rangka ungu bertinta hitam mengajak berbicara. Dia bilang, aku harus segera menyelesaikan tugas. Tapi tenang saja. Ini bukan tugas negara. Di samping pena ungu itu, tertidur snowman markerdengan rangka dan tinta merah. Aku bilang padanya untuk sampaikan pesan pada pena ungu untuk tenang saja. Aku sedang menikmati senja. Sebentar saja.
Sekarang jam lima lewat tiga puluh lima menit. Senja sedang merona di atas langit. Biarkan aku senyum-senyum sendiri walau sakit.
Di ujung kanan, ada segerombol laki-laki yang semuanya memesan soda dan burger. Mereka berjumlah lima orang. Ku taksir, usianya tak jauh denganku. Semuanya berpakaian gelap. Ada cokelat, hitam, biru tua, dan abu-abu. Dua diantaranya berkaca-mata. Tak seperti laki-laki paruh baya di belakangku, aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Mungkin karena Judika sedang asyik bernyanyi melalui speaker tempat ini. Tapi, dari ekspresinya obrolan mereka tak jauh-jauh dari wanita. Syukurlah.
Jam pulang kantor. Orang lalu lalang dengan tas diselempang, dijinjing, atau disandang. Sedari tadi, tak pernah jembatan halte transjakarta sepi. Aku dapat dengan jelas memerhatikan mereka terburu-buru menaiki jembatan itu. Kaca bening sekaligus dinding ini sungguh bersih. Pasti karyawan di sini rajin menyemprotnya dengan zat kimia yang membersihkan dengan sekali gosokan.
Tranjakarta, kopaja, metro mini, gojek, dan grab bikelaris manis. Ada yang terus memerhatikan gadget di tangannya. Kurasa dia sedang menunggu konfirmasi abang gojek. Ada yang sedang berpegangan tangan menuju parkiran. Ada yang berjalan santai sambil minum soda. Ada aku, yang menikmati coffee latte sambil memandang langit yang nyaris senja. 
Senja.
Tadi matahari jingga ada diujung gedung putih itu. Sekarang telah tertutup awan. Aku kehilangan momen dia berjalan manis di langit. Mungkin aku harus segera menghubungi Dewi Senja.
Hai Dewi Senja. Tadi aku melihatmu terbang berdekatan dengan matahari jingga. Sekarang, aku tak bisa melihat sayapmu lagi. Apakah awan menyakitimu? Jika iya, tolong beritahu aku. Aku akan bilang pada Dewa Malam untuk segera menyelamatkanmu. Aku berteman baik dengan Dewa Malam. Aku yakin dia akan membantumu jika aku meminta.
Senja.
Hai kamu. Aku sedang duduk manis menikmati langit jingga tanpa Dewi Senja kali ini.
                                                                                                                                 Gizsya
Note: Cerita Senja Suatu Ketika adalah cerita fiksi yang dibagi menjadi beberapa cerita pendek.  

Selanjutnya: Cerita Senja Suatu Ketika (Surat Ke-2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: