Deadline, Supir Taksi, Monas, dan Cinta

Kalau lo nge-klik postingan ini gegara kata terakhir di judul gw barusan, maka lo adalah pasukan pengais cinta, pencari cinta, dan atau pejuang cinta. hahaha… (Pilih sendiri)
Lalu, kenapa itu judul random banget, Sya? Hmm… ya karena otak gw serandom itu. Hihi..
Okay, skip that bullshit!
Deadline. Kalau kata teman gw. “Kapan sih lo nggak ketemu deadline, Sya?”
Iya juga sih. Namanya juga kerja sebagai freelancer, ya tiap hari bakal ketemu sama si manis jembataan laptop penggragas keyboard alias deadline. Udah biasa. Tapi, yang nggak biasa hari ini adalah gw bete tingkat dewa. Kenapa?
Jadi ceritanya, gw berangkat kantor keujanan. Alhasil nyampe kantor, gw kedinginan dengan suhu AC yang nggak bisa disulap dengan tring lalala karena AC gedung udah di setel kayak gitu. Jam makan siang gw berencana balik ke kosan buat ganti baju, terus ke apotek beli vitamin, dan ketemu klien buat meeting yang biasanya nggak lebih dari setengah jam. Good plan, right?
Nyampe kantor klien (belum ke kosan dan apotek), jeng jeng…handphone gw nyala dan temen gw di ujung sana bilang, “Balik kantor sekarang Gizs. Ada meeting dadakan. Lo dicariin.” Aih matek!
Gw lalu ke rooftop dan manggil kurcaci awan buat bawa gw terbang dari gedung X terus mendarat dengan manis di gedung Y seberang sana. This is not ur dream, Sya!
Dua puluh menit kemudian gw nyampe kantor lagi bersama abang Gojek. Dan begitu nyampe meja, gw langsung nyalain laptop, menundukkan kepala dengan wajah memohon maaf karena telat, dan mencoba fokus pada pembicaraan. Dua menit kemudian. Meeting selesai!
Suddenly, I wanna fly to the moon and back to the earth in a minute!
Singkat cerita, hasil meeting mewajibkan gw menyelesaikan deadline lebih cepat dan okay…lembur! Jam sebelas malam gw balik dari kantor.
……
“Pak, kita jalan-jalan dulu ya.”
Si Bapak Taksi bingung. Mungkin dia kira gw kuntilanak yang bakal bayar pake daun.
“Saya mau refresh, Pak. Saya pake voucher taksi kok, Pak.”
Si Bapak lalu mahfum, dan menyetir dengan santai. Tujuan awal maunya ke Kota Tua, tapi ada chat nyala di WA “Jangan gila deh. Go back home. Take a rest!A good friend ngomel di sudut lain Jakarta (mungkin sambil geleng-geleng menyesal punya teman kayak gw).
 Okay, akhirnya gw milih Monas yang lebih dekat.
“Emang kadang lebih baik buang penat dulu, Mbak. Supaya lebih jernih pikirannya.”
Gw khawatir si Bapak ngira gw bermuka lusuh gegara patah hati, akhirnya gw cerita tentang hari ini. Si Bapak ketawa.
“Namanya juga kerja, Mbak. Wajar seperti  itu. Yang penting kita mencintai pekerjaan itu.”
Nah, ini dia. Mencintai pekerjaan! Alasan gw milih jalan-jalan sebelum pulang ya karena gw cinta banget sama yang apa yang gw kerjain sekarang. Secinta gw sama senja, langit, dan malam. Elahh… I do love my job! Because of that love, gw mau hari ini diakhiri dengan senyuman atas hasil yang gw kerjain hari ini. Gw nggak mau patah hati. Karena sampe jam sebelas malem senyum itu belum merekah, gw harus cari cara lain buat senyum sebelum tidur. Ini dia salah satu caranya.
Berlanjut ke cerita Bapak Taksi.
Doi terlahir sebagai anak dari keluarga berada. Ayahnya salah satu pejabat Pertamina dan ibunya adalah akuntan di salah satu perusahaan swasta Jakarta (waktu itu). Si Bapak lahir dengan ekonomi berkecukupan dan lingkungan pertemanan yang setara (dalam hal ekonomi). Luck selanjutnya, beliau itu pinter banget dan berhasil masuk tiga besar selama masa sekolah. Lulus SMA, beliau lulus di UI. Keren nggak tu?
Tapi, yang namanya di atas..banyak godaan. Dompet tebal, lingkungan pertemanan kurang baik, Si Bapak kemudian masuk lingkaran pemakai ganja dan di DO oleh kampus secara tidak hormat. Diusir orang tua dari rumah menjadi bad story selanjutnya. Tiga bulan di nginep di rumah temannya, akhirnya beliau diajak pulang oleh ibunya dan melanjutkan kuliah. Lulus kuliah, beliau menjadi pegawai bank. Karena krisis ekonomi tahun 1998, beliau masuk dalam jajaran orang yang kena PHK, lalu bekerja sebagai cash collector perusahaan swasta. Gw susah jelasin deskripsi kerjanya. Intinya, Si Bapak nggak nyaman dan minta jadi cash driver (gw juga bingung jelasin yang ini). Pada titik ini, beliau sangat menikmati kerjanya. Semua berjalan lancar sampai akhirnya si perusahaan juga kena dampak krisis moneter dan bangkrut. Beliau kemudian menjadi pengangguran.
Yang bikin gw sedih, istrinya memilih meninggalkan beliau sendiri dan membawa serta anaknya. Hiks.
“Saya nggak putus asa. Saya kemudian melamar kerja lagi di bank.”
And yes, beliau kembali menjadi pegawai bank. Lambat laun kondisi ekonominya membaik. Tak lama, istri dan anaknya kembali ke rumah. Seperti tak ada masalah, semua berjalan baik-baik saja.
“Lalu, kok sekarang jadi driver, Pak?”
“Karena usia saya sudah tua, jadi karir di bank kurang menjanjikan. Kalau jadi driver,  saya bisa lebih kerja keras untuk dapet lebih. Berangkat Subuh, pulang malam. Jadi hasilnya maksimal.”
Keren banget, sumpah…
Lalu, ada satu pertanyaan yang pengen banget gw utarakan.
“Pak, sorry saya mau tanya. Gimana cara Bapak memaafkan istri Bapak?”
“Cinta, Mbak. Saya cinta banget sama dia. Juga karena anak saya. Bahkan ketika saya tahu dia selingkuh, saya masih tetap memaafkan. Perasaan sayang itu mengalahkan segalanya, Mbak. Saya kerja keras untuk istri dan anak. Karena saya cinta banget sama mereka, saya melakukan yang segalanya untuk kebahagiaan mereka.”
Gw diem. Menampung semua petuah beliau malam ini.
“Saya doain, Mbak segera ketemu sama orang yang sayang banget sama Mbak. Dia pasti melakukan segala hal untuk membahagiakan Mbak.”
“Aamiin.” Suer, pas jawab ini gw kenceng banget. Hahaha..
And, now I’m smiling.
Thank you deadline, Bapak Taksi, Monas, dan…cinta!
 Gizsya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: