Buku Bajakan: Efisiensi Koleksi Buku

Jalan ke Gramedia. Nangkring nyari-nyari bukunya Om Maxwell, senggol terbitan terbaru Om Aidh Abdullah, melipir ke koleksi Mbak Asma Nadia, lirik ke Mas Tereliye, kepentok ngaconya Radithya Dika, jatuh cinta sama Donny Dirghantoro….ohhh…
Lupa sama Mbah Warren, acuhkan sebentar Om Beams dan kawan-kawan,  bahkan Mbak Sekaran yang tanda tangan sama Pearson atau Wiley.. Toh, kalau koleksi yang ini dapetnya gratisan. Hehe..
Keluar dari Gramedia, senyum lebar liat folder pictures handphone banyak cover buku best seller.
Pulang ke kosan, cari ilham buku mana yang mau dibeli. Rogo kantong, liat saldo ATM. Fixed,next time ke Senen. Ngapain? Hunting buku yang covernya sama kayak yang gw temuin di Gramedia.  Kenapa nggak beli di Gramedia aja? Karena lebih efisien di Senen. Kenapa? 100 rebu bisa dapet 5 buku! Hehe..
Suka baca buku, tapi nggak punya kocek lebih buat jadi hal milik. Pinjem di perpustakaan dong Sya. Yap, benar banget. Tapi, entah kenapa, ada rasa puas tersendiri kalau buku yang kita suka tersebut jadi hal milik. Ya nggak? Secara, kalau buku sendiri itu bisa dibaca kapan aja tanpa deadline, boleh dilipat-lipat, distabiloin, dilempar-lempar, jadi penggangga tidur di kelas, atau bahkan bisa dipake buat membunuh kecoa.  Hehe..
Nah, itu dia alasan gw suka ngoleksi buku. Dampak positif nih ya. Tu buku bisa lo pinjemin sama temen-temen lo. Nah, amal jariah kan ya? Bisa juga membuat teman-teman lo jadi suka baca buku kalau nagkring di kamar lo. Minimal, liat-liat judul buku. Ada ilham, pinjem deh. Nah, bisa menularkan virus membaca kan?
Kadang, beli 3 buku nggak semuanya kelar dalam 1 bulan. Well, minimal buku itu selalu nyapa lo tiap hari. Kalau lagi demen, ya baca. Sabar aja, ntar lama-lama kalau spare time lagi banyak, bakal kebaca kok itu buku satu-persatu. Ya, minimal kayak yang gw bilang tadi. Bisa dipinjemin. Lumayan buat ngumpulin amal jariah. Syukur-syukur bisa kayak ibu Kies (Pendiri Taman Baca Warabal) yang bikin perpustakaan. Amiin J
Well, ngoleksi buku need more money. Yuhuu, absolutely.  Nah, untuk satu hal ini, gw mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada para pembajak buku di seluruh nusantara. Mohon maaf sebentar kepada para penulis nasional maupun internasional yang bukunya gw beli bajakan. Jadi, para penulis tersebut tidak mendapat royalti atas tulisannya yang gw baca. Gw mohon maaf sedalam-dalamnya.
Cerita tentang buku, bukan hal yang aneh kan ya ngeliat anak muda males beli buku karena harganya selangit. Hmm, pengen rasanya bilang ke pemerintah untuk tidak hanya mensubsidi BBM, melainkan KERTAS! Ngomong-ngomong BBM, kalau BBM nggak disubsidi, BBM bakal mahal, biaya kendaraan bermotor bakal naik, nah.., jumlah kendaraan bermotor bakal nurun kan ya? Orang-orang pasti mulai deh mau naik sepeda.  Macet berkurang, atmosfer tersenyum, bumi bangga. Andai…
Terus, kalau yang disubsidi itu kertas. Hmm, buku jadi murah. Orang-orang jadi demen baca buku. Buku laris. Kreativitas meningkat. Anak-anak cerdas. Wuihh,,,
Back to  buku bajakan. Waktu gw jadi butetnya Medan, gw seneng banget nangkring di Lapangan Merdeka Medan hunting buku-buku baru (bajakan). Nah, sekarang gw jadi seneng hang out ke Senen nyari buku baru (tetap bajakan). Bayangin, novel yang harganya 8o ribuan, bisa jadi 20 ribu. Efisien banget kan buat ngoleksi buku?
Sekali lagi, gw minta maaf sedalam-dalamnya sama para penulis yang bukunya gw beli bajakan.
Nah, kondisi koleksi buku dalam bentuk buku bajakan ini biarlah menjadi habit ketika masih berstatus mahasiswa? Kenapa?
Well, mahasiswa yang katanya kaum muda intelek need more and more buku. Kalau fase kupu-kupu ni ya.., kita mahasiswa itu ada pada fase ulet yang rakus makan daun. Nah, mahasiswa must do likeulet (bahasa gw ngaco, maaf). Namun dan ternyata, beli buku itu mahal amir! So, (bilang nggak apa-apa) kalau mahasiswa diperbolehkan beli buku bajakan. Beli loh ya… bukan dijual kembali.
Toh, Pasal 44 Undang-Undang No 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nonor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta, bilang begini:
(1)    Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
(2)    Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana *5853 dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Nah, gw kan cuma beli, ngoleksi, dan meminjamkan. Nggak apa-apa donk ya?  (alibi)
Era teknologi canggih begini mah, udah nggak ada alasan buat kita  malas baca buku. Suka ngoleksi buku, bisa beli bajakan. Suka ngoleksi e-book, tinggal download. Gampang kan?
Disclaimer: Kebiasan beli buku bajakan, plis dilakukan hanya ketika berstatus pelajar/mahasiswa. Kalau udah bisa ngisi kocek sendiri, ayo beli buku original. And, suatu ketika kalau buku gw terbit (amiin), dengan ikhlas gw mengizinkan siapa saja (pelajar/mahasiswa) membeli buku gw dalam bentuk bajakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: