Sampahku, Sampah Kamu, Sampah Kita!

Gw sebenarnya nggak suka nulis judul barusan. Tapi, gw nggak menemukan judul lain untuk bilang kalau masalah sampah itu adalah masalah kita bersama. Gw bukan komplotan pemuda bangsa yang suka ngomelin pemerintah. Jadi, tulisan kali ini nggak ada hubungannya dengan kinerja pemerintah dalam hal menanggulangi banjir Jakarta karena sampah, atau nyalah-nyalahin pemerintah tentang korban longsor sampah beberapa minggu lalu.
Okay. Apa yang lo inget di bulan Februari? Valentine’s Day? Wohoo, mulai deh mikirin tentang cokelat dan bunga untuk pasangan. Atau, lagi semangat empat lima untuk punya gebetan buat foto di Instagram tanggal 14 Februari nanti? Biar dibilang gaul gitu. Basi!
Iya. Basi! Udah nggak zaman Februari itu diisi dengan kesibukan Hari Valentine. Kalau lo bisa ungkapin cinta dengan segala cokelat, bunga, atau apalah itu, lo tetap nggak kece kalau masih buang sampah bungkus permen lewat jendela mobil.  
Okay, bye-bye ritual Valentine’s Day!
Let’s count down the precious day on 21th February 2016!

Iya, 21 Februari adalah Hari Peduli Sampah Nasional. Daripada mikirin cinta-cintaan yang belum pasti jadi cinta seumur hidup, mending mikirin ‘Cinta Bumi’ untuk kehidupan anak cucu ntar. Berat banget Sya cerita tentang anak cucu segala… Iya, emang berat. Karena bumi juga lagi berat menahan sampah di atasnya. Emang lo mau tinggal di Mars? Gw mah ogah. Nggak ada bowling, bioskop, dan coffee shop di sana. Okay!
Singkat cerita, 21 Februari 2005 lalu ada tragedi longsor sampah yang menewaskan ratusan jiwa. Jadi, gunungan sampah di TPA Leuwi Gajah Cimahi, Jawa Barat itu meledak, longsor, bahkan menimbun beberapa daerah huni yang akhirnya menewaskan ratusan warga. That’s why, tanggal 21 Februari dicetuskan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Lalu, gimana kabar TPA-nya, Sya? Baik-baik aja? Enggak! Volume sampah bertambah, kondisi sampah semakin menggunung, bahkan masyarakat udah banyak yang lupa sama tragedi ini.
Bahkan, 27 Januari 2016 lalu, sampah kembali memakan korban. TPA Bantar Gebang ikutan longsor dan membuat sepasang suami istri tertibum di dalamnya. Omaigat!
Do u know, ada sebuah penelitian yang bilang kalau Indonesia adalah penyumbang sampah terbesar kedua di dunia. Nyebelin nggak tu? Iya, nyebelin. Tapi, poinnya bukan tentang penelitian itu valid atau nggak.
Ya emang karena masyarakat kita masih banyak yang belum sadar sampah. Aliran sungai di Manggarai masih banyak sampah plastik, tong sampah di kampus gw masih dominan isinya botol plastik, dan banyak sarjana yang masih lebih doyan beli air mineral botolan dibanding bawa tumbler dari rumah. Nah, gimana tu?
Wajar aja kalau sampah di Bantar Gebang terus menggunung. Lah, wong sampah plastik butuh waktu 50-80 tahun untuk hancur. Sementara, tiap hari kita masih aja menyumbang sampah plastik. Iya, iya. Termasuk gw yang masih suka minum kopi dari gelas plastik coffee shop, masih sering makan kentang goreng di McD, masih juga doyan cemilan yang dibungkus plastik. Nah…
Poinnya, bukan buat berhenti minum kopi atau makan kentang goreng. Karena ya nggak mungkin kan mereka menyediakan makanan tanpa wadah? Tapi, yuk sama-sama bergerak membangun kepedulian dan kebersamaan semua pihak dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Yuk, buang sampah pada tempatnya supaya banjir Jakarta nggak semakin menjadi.
Yuk, pilah sampah supaya proses daur ulang lebih mudah direalisasi.
Yuk, kalau belanja ke supermarket bawa kantong belanja sendiri.
Yuk, ikutan kampanye Bebas Sampah untuk tanggal 21 Februari.
Yuk, bikin Indonesia bebas sampah di tahun 2020 nanti.

Gizsya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: