Jatuh Cinta itu Energi

Obrolan mengalir manis begitu gw nyampe di rumah gw yang kedua, selain rumah bokap nyokap di Kisaran tentunya. Iya, rumah kedua, yaitu rumah orang tua gw di Jakarta.
Emang ye, kalau nyampe rumah obrolan awal pasti bermula dari jodoh. Oh, jodoh, kamu dimana sih? Nah kan.. Okay. Postingan ini bukan cerita kegalauan, apalagi dilema cinta. Malu sama umur.
“Kamu tau apa itu jatuh cinta?” Tanya papah waktu kami memulai obrolan di saung.
“Itu dia. Nggak tau, Pah. Nggak paham.”
Iya, emang gw nggak pernah paham. Berapa kali musti gw bilang, emang teori tentang kata dengan jumlah 5 huruf itu sungguh sulit didefenisikan. Karena kata dengan dua huruf vocal dan tiga huruf konsonan itu jugalah, Om Kahlil Gibran terkenal. Jadi, kalau gw gagal paham ya mohon dimaklumi.
Tapi, obrolan bareng beliau yang udah nulis puluhan buku dan membaca ratusan buku itu, nggak akan berakhir begitu saja.  Selain kisah cinta mami papi yang romantis abis, gw ngeliat kisah cinta orang tua angkat gw itu juga luar biasa.

“Jatuh cinta paling indah itu, adalah ketika orang tersebut tidak harus mengubah apa-apa dalam dirinya untuk cintanya.”
Gw harus pasang otak fokus untuk memahami kalimat ini. Suer.
“Sama dengan bersahabat?”
“Persis sama. Hanya bedanya, kamu akan merasakan energi.”
“Maksudnya?”
“Ketike bersama orang yang kamu cintai, kamu akan punya energi untuk selalu menjadi yang lebih baik. Baik untuk kamu sendiri, dan untuk dia,”
Gw mulai puyeng.
“Iya. Jatuh cinta itu energi. Bagaimana cara menemukan dan merasakan energi itulah yang paling penting.”
Gw mendengarkan dengan serius. Persis waktu matakuliah Business Ethic yang sering ngebahas filsafat.
“Kamu akan selalu jadi diri sendiri dihadapannya, dan dia menyukaimu karena itu.”
 “Pah, bikin jus mangga, yuk.” Gw kemudian memalingkan pembicaraan dengan membuat jus mangga. Padahal, karena gw masih mau mencerna dengan baik penjelasan beliau.
Okay. Jatuh cinta itu energi. Sampai disini, gw bisa menyimpulkan satu kata itu. Walau belum paham banget energi apa yang dimaksud. Yang pasti, bukan energi kinetik, energi mekanik, apalagi energi listrik. Mungkin, energi yang bisa bikin hati menggelitik. Titik.

dak harus mengubah apa-apa dalam dirinya untuk cintanya.”ta ‘Kahlil

Gizsya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: