Kerja as ‘Playground’

“Lo kerja, tapi lo menganggap itu main-main.”
“Nggak donk. Gw serius kali ngerjainnya.”
“Maksud gw, lo menganggap itu playground.”
“That’s why I’m happy.”
Gw pernah nulis sebelumnya, kalau teman itu ibarat alarm yang mengingatkan, bahkan hanya dalam kalimat sederhana. Dan postingan kali ini terjadi karena sahabat gw yang keren banget.
Di usia yang bukan anak kuliahan lagi, gw yakin lo juga mengalami pengurangan jumlah main sama teman kayak gw. Udah jarang yang namanya nongkrong di Mcd sampe pagi, atau ngobrol ngalur ngidul abis jam kuliah. Tapi, ya emang kita nggak bisa selamanya begitu.
Nah, gw ngerasa beruntung banget punya teman-teman luar biasa ini. Salah satunya teman yang menyapa gw ditengah ‘cute deadline’ dengan percakapan di atas. Sebut saja Lee Min Ho. Walau dia udah sering masuk blog gw, tapi gw belum dapet izin buat pake nama asli. Hehe..
Sedikit cerita tentang Min Ho. Dia adalah salah satu teman kuliah gw yang terjebak, emmm nyasar dink. Iya, dia adalah salah satu penambah grafik mahasiswa yang mengambil program studi yang tidak sesuai dengan passion. Tapi ya, mau gimana lagi. Emang sekolah kita di zaman SMA nggak ngajarin yang namanya passion. Bahkan, kata ‘passion’ aja baru ketemu pas zaman kuliah. So, kalau banyak warga negara yang salah jurusan ya emang begitulah hasil sistem yang terjadi. Kita nikmati saja.
Nah, tapi nyasar bukan berarti nggak tau jalan. Dari Min Ho, gw belajar bahwa nyasar itu tetap seru kok. Min Ho tetap bisa kuliah dengan hasil yang bagus dan beasiswa yang bertahan sampai selesai.
Beberapa bulan belakangan, Min Ho lagi nyari kerja sana sini karena ya emang udah masanya kerja. Tapi, jangan salah, doi tetap rajin nge-freelance sesuai passion-nya. Yaa, sekitaran video dan film making. Dan, belakangan ini doi ternyata melamar pekerjaan dengan label Akuntansi.
The point is, Min Ho memilih melenceng dari passion.
Nah, ini dia yang mau gw bahas.
Tuntutan usia dan faktor-faktor kebahagiaan usia 20an emang sudah berbeda dengan usia zaman ABG dulu. Min Ho sudah harus berpikir untuk segera menikahi pacarnya, dan berusaha membuat orang tuanya bahagia dengan ‘kemandirian’. Ya, ternyata jadi laki-laki itu nggak mudah yah. Hehe.. .
“Kadang kita harus mendobrak kepercayaan diri untuk sedikit berdamai dengan kenyataan, lalu kembali jadi sendiri beberapa waktu datang.”
Nah, kalimat barusan adalah hasil chat kita beberapa hari lalu.
Yap, itu yang Min Ho pilih. Min Ho memilih mengutamakan prioritas daripada keinginan pribadi. Toh, banyak jalan bahagia, bukan?
Dan, kembali ke obrolan awal gw bareng dia beberapa menit lalu. Pekerjaan paling bahagia adalah hobi sendiri. Tapi, jangan lupa. Kalau terlalu asyik dengan dunia sendiri, membuat kita kerdil. Kadang kita emang harus tau kapan harus keluar dari zona nyaman, untuk mengembangkan diri lebih baik lagi.
Oiya, one more and the most important thing. Apapun  pekerjaannya, akan jauh lebih nikmat kalau kita menganggapnya playground. Yap, playground sebagai tempat main, tempat untuk jatuh karena berlari terlalu kencang, tempat untuk tertawa ketika jatuh dari ayunan dalam keadaan bokong bengkak, dan tempat bertanya semua hal bahkan pertanyaan paling absurd sekalipun.
Min Ho, fighting!
Gizsya
                                            

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: