Jempol untuk Film Indonesia (99 Cahaya di Langit Eropa, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)

Selama bulan Desember 2013 lalu,gw bingung ngatur kocek gegara film-film recommended nangkring di bioskop. Mulai dari Hunger Games, The Hobbit 99 Cahaya di Langit Eropa, Edensor, Tenggelamnya Kapal Van Der  Wijck. Dari film-film yang gw sebutin itu ada rasa bangga luar biasa sama negara yang bikin gw dipengujung studi S1 ini karena 4 diantaranya itu film Indonesia.
Gw mah jujur aja, dari dulu nangkring ke bioskop buat nonton film luar. Jarang banget nonton film Indonesia. Paling juga kalau dapat tiket Premiere baru deh nonton film Indonesia. Alasannya begini. Pertama, ceritanya nggak greget. Lo ngerti maksud gw pasti. Yaa, ceritanya gitu-gitu aja. Gampang ditebak. Kedua, acting  nya kurang ngena. Ngena disini maksudnya yaaa krang menjiwai gitu. Ketiga, gambarnya entah kenapa jarang bikin amaze. Ya, gw emang bukan kameramen, tapi ya minimal ngerti lah gambar bagus yang gw maksud. Kalau tiga alasan ini juga terjadi di lo yang jarang nonton film Indonesia boleh ngangguk. ^_^
Tapi, nggak untuk film-film di Desember 2013 lalu. Kalau gw cerita tentang Katniss Everdeen di Hunger Games udah pasti kebayang sama actingnya yang bikin kita semangat buat jadi perempuan berani. Jadi bisa ngebayangin gimana kalau Hunger Games beneran ada dan harus siap mati demi acara TV ketika usia remaja. Nah,  acting seperti itu yang gw maksud.
Nah, di Desember 2013, bulu kuduk gw merinding waktu tau bahwa Napoleon itu seorang Muslim dan beliau memberikan jejak Islam dalam strategi perangnya. Peradaban Islam di Eropa ternyata begitu banyak. Betapa Allah Maha Sempurna ketika gw tau bahwa pada gambar Bunda Maria milik kaum Kristen terdapat tulisan Lailahailallah (Tiada Tuhan selaain Allah). Apalagi yang harus diragukan tentang Islam? Betapa bersyukurnya gw lahir dan besar di Indonesia yang mudah menemukan mesjid.  Dan, gw merinding melihat perjangan seorang anak perempuan yang teteap mengenakan jilbab ketika semua orang mengejek dan betapa tegaarnya dia menghadapi penyakitnya. Daan yang paing utama, ini bukan sekadar film, tapi KENYATAAN tentang Islam!
Film seperti ini yang gw maksud. Pengambilan gambar yang membuat gw bermimpi untuk berkeliling Eropa dengan mencari beasiswa di Eropa. Cerita yang membuat gw merinding karena syukur. Film yang membuat gw semakin jatuh cinta dengan Islam. Empat jempol untuk film 99 Cahaya di Langit Eropa.
Next, film yang membuat banyak orang semakin sadar bahwa menikah itu harus dengan cinta. Bukan karena kedudukan, harta, dan kecantikan. Film yang menunjukkan untuk terus bangkit dari setiap keterpurukan dan film yang mengajarkan bahwa dengan tulisan kita bisa mengubah dunia, mengubah pemikiran orang dan memberikan banyak pelajaran hidup. Ah, semangat untuk jadi penulis semakin besar. Angkat jempol untuk Herjunot Ali yang acting nya bikin air mata gw netes.
Siapa bilang film Indonesia nggak bagus? Beberapa tahun ini film Indonesia cukup membuat bioskop rame dan gw bokek (padahal selalu dibayarin. Hihi). Film bukan hanya jadi objek hiburan, tapi untuk pelajaran! Jempol untuk perfilman Indonesia.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: