Dua Pilihan..?

Tiga, empat, lima, atau lebih pilihan sering membuat seseorang lebih mudah untuk memilih dari pada dua pilihan. Iyya bukan? Satu adalah pilihan mutlak. Ketika ia berteman menjadi dua maka ada pilihan yang membuat keduanya harus dipikirkan. Keduanya pasti memiliki korelasi yang sangat erat, bahkan berwajah mirip. Semakin sedikit pilihan, semakin banyak pula yang dipertimbangkan.
Lalu, bagaimana jika seseorang tidak memilih salah satu dari dua lalu memutuskan untuk berjalan dikeduanya?
Cukup sederhana. Berawal dari keinginan kuat untuk belajar dari dua komunitas dengan culture yang berbeda, orang-orang yang berbeda, cara kerja yang berbeda, namun punya mimpi yang sama. Salahkah?
Awalnya, keseimbangan kerja berjalan lancar dengan fokus kerja yang berbeda pada keduanya. Tak terpikirkan sebelumnya, pilihan akan muncul. Kerja manakah yang lebih mengasyikkan?
Terus berjalan, hingga membandingkan kenyamanan dalam rangkulan komunitas. Tak sadar, pilihan kembali muncul.
Terus berjalan seimbangkah?
Jika saja pikiran dikepala manusia mempunyai tombol bluetooth yang bisa menangkap sinyal sekitar lalu membagi pikiran yang sama, maka tak akan ada praduga. Layaknya 2 kelompok serigala yang sedang memburu mangsa. Bukan mangsa yang menjadi objek pemikiran tak tik utama. Tapi, bagaimana usaha mengalahkan kelompok lainnya agar pengejaran mangsa lebih leluasa.
Berada dalam keduanya, membuat praduga muncul tanpa disadari. Semakin lama, semakin besar. Bukan hanya dari satu sisi, namun keduanya memiliki praduga sendiri. Lalu, apa yang akan dilakukan?
Pilihan yang tadinya begitu sederhana, memunculkan banyak pilihan yang membuat keseimbangan bergerak karena berbeda berat. Persepsi yang berbeda muncul dari keduanya tanpa memikirkan maksud awal dari seseorang itu. Semua menjadikan pilihan semakin keruh.
Yang awalnya meminta untuk dipilih, perlahan menjauh. Semakin jauh sehingga pilihan terlihat semu. Ada dua pilihan kondisi yang akan terjadi. Berat semakin tidak seimbang dan meninggalkan salah satu. Atau, diam sejenak berpikir. Ketika diam, berat sudah terlanjur tidak seimbang. Berat dominan meminta untuk semakin kuat, namun ketika diam..apakah berat akan bertambah dan semakin dominan? Lalu?
Dua pilihan yang tadinya tersedia, karena semangat menggebu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di depannya akan menjadikan kedua pilihan itu mulai terkikis sendiri. Hal yang tadinya positif dilakukan dengan cara yang “meragukan” menjadikannya sedikit demi sedikit menjadi negatif. Hal yang berlebih menjadikan ragu.., tetap negatif.
Fokus itu satu. Satu adalah mutlak.  Ya, hanya akan menjadi di salah satunya.
Really sorry..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: