Child Free: Pilihan atau Jawaban?

It’s been a while not writing on my blog. Dan, seketika ingin menulis tentang child free yang sedang ramai banget dibahas di media sosial. Hal pertama yang hadir di kepala ketika mendengar tentang child free adalah ‘kok bisa?’

Ya, kok bisa pasangan menikah tidak ingin memiliki anak. Gw pribadi yang telah menikah lebih dari 2 (dua) tahun selalu sedih ketika tiap bulan menstruasi. Sering pula menangis melihat bayi lucu, saking inginnya memiliki. Tiap hari berdoa pada Allah untuk dititipkan malaikat kecil di dalam perut, namun tak kunjung diberikan. Pergi ke dokter yang memakan banyak biaya pun, sudah dilakukan. Maka, gw begitu heran. Kok bisa ada orang yang tidak ingin memiliki anak setelah menikah?

Kemudian, pertanyaan itu melebur menjadi sebuah renungan. Bahwa ini adalah tentang pilihan hidup seseorang yang memiliki perjalanan panjang sebelumnya. 

Gw teringat dengan salah satu teman kuliah yang memutuskan tidak ingin menikah sebelum usia 30 tahun. Waktu memutuskan itu, dia masih berstatus mahasiswi dan sudah memiliki kekasih, namun enggan memilih pernikahan. Ada pula teman lain, seorang lelaki dengan karir cukup bagus di perusahaan internasional enggan menikah walau usianya mendekati kepala tiga. Jika ditanya, apakah mereka tidak mencintai pasangannya? Jawabannya, iya. Mereka mencintai pasanganya. Lalu, kenapa belum mau menikah? 

“Gw mau hidup dengan diri sendiri setidaknya hingga usia 30.”

“Gw belum siap jadi suami.”

Jawaban dua sahabat gw itu, mengingatkan tentang alasan orang memilih untuk child free. Pernikahan saja bukanlah keputusan yang mudah. Ada kesiapan emosi, hati, keluarga, finansial, dan belum lagi trauma masa lalu. Apalagi pilihan untuk punya anak?

Bagaimana seseorang tumbuh dan berkembang, bagaimana keluarganya, bagaimana pula lingkungannya. Semua sangat memengaruhi pilihan hidup. Haruskah disalahkan? Tentu tidak.

I do wanna have a baby. Tapi, gw nggak akan menyalahkan mereka yang tidak ingin memiliki anak. Sama dengan gw tidak menyalahkan teman-teman gw yang tidak ingin menikah. 

Tiap orang memiliki definisi, visi, dan misi sendiri dalam pernikahan. Buat gw, menikah adalah ibadah. Tak jarang orang menyatakan menikah adalah tanggungjawab besar. Ada juga yang bilang menikah adalah mengekang kebebasan. 

Sama dengan menikah perlu kesiapan, memiliki anak pun juga. Tidak ada sekolah untuk menjadi suami maupun istri. Nggak ada juga kuliah untuk menjadi orang tua. Kesiapan ini banyak sekali faktornya. Ada faktor mental, finansial, makna individualitas, kebebasan, atau bahkan pemahaman tentang apa itu bahagia. Belum lagi termasuk trauma masa lalu yang mungkin belum teratasi atau bahkan belum disadari. 

Lalu, apa yang harus dilakukan jika masih bingung?

Balik ke agama. Balik ke Al-quran. Karena kita punya Allah.

Masa lalu, masa sekarang, masa depan hanya Allah yang tau. Sama seperti ada orang yang ingin punya anak, namun belum diberikan anak. Ada pula orang yang tidak ingin memilikinya, tiba-tiba diberikan kepercayaan tentang anak. Tentu pernah mendengar cerita tentang orang yang sudah pakai alat kontrasepsi namun tetap hamil, bukan? Lalu, apakah ini tentang kesiapan?

Menikah dan punya anak hanya Allah yang memutuskan. Sejauh apa usaha untuk memiliki atau tidak, kunfayakun.. Kalau Allah berkehandak, mau bilang apa?

Sekali lagi, gw nggak menyalahkan pilihan child free atau tidak. Karena itu pilihan manusia dan hanya Allah pemegang jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: