31 Januari

Mengetik tanggal, aku teringat penulisan laporan keuangan yang umumnya di buat akhir bulan atau akhir tahun. Tapi kali ini, aku tak sedang belajar membuat laporan keuangan dekaka… Terlebih..

Liburan=hibernasi? Ini yang aku suka dari Bandung. Kamar kakakku yang berada dilantai dua dengan jendela yang super besar dan mampu menahan tubuhku untuk duduk di atasnya menatap Gunung Tangkuban Perahu dari jauh. Hening. Dan lima kali dalam sehari aku mendengar suara azan yang sungguh merdu dari mesjid dekat kamar kos itu. Tenang. Dan dua hariku terisi oleh hibernasi disini.

Hmm, tidak untuk tanggal 31 Januari. Tanggal ini sangat krusial. Kuraih ponselku dan mengirim sms pada Alvin, sahabatku sejak SMP itu. “Ya, abis main futsal gw kesana.” Balasnya. Aku ingin mengakhiri tanggal ini dengan senyuman.

Beberapa jam kemudian APV hitam menjemputku diujung gang. Ahh, entah roda empat siapa yang Alvin curi sehari ini. SIM A juga nggak jelas bisa lulus dari mana. Sepengetahuanku, frekuensi dia menabrakkan mobil hampir sama dengan frekuensi seringnya aku jatuh karena aplikasi gaya gravitasi bumi dengan motorku. Hmm, tapi aku tetap ikut.

8.03 pm. Bukit Bintang.

Begitu indahkah ketinggian? Segalanya terlihat kecil dari ketinggian. Benarkah? Status yang tinggi mampu melakukan segalanya pada status rendah. Segampang itukah? Tidak. Mereka terlihat kecil, namun mereka begitu indah dari ketinggian. Tersusun rapi dengan warna yang cerah, mampu membentuk senyuman dari orang yang melihatnya dari ketinggian. Bagi mereka yang rendah, kekuatan semangat dan usahalah yang menopang eksistensinya.

Ada getaran berbeda dari dalam hati ini ketika aku menatap ribuan bintang itu. Sebuah pernyataan yang terlanjur aku ucapkan, tidak.. itu bukan ketidaksengajaan. Aku ingin membuatnya tahu. Hanya itu. Tinggi tak selalu indah. Ia sering melupakan yang rendah. Tapi, kali ini aku akan menjadi tinggi seperti tantanganmu. Lalu aku akan kembali rendah dengan ketinggian itu, untuk mereka, dengan sinar yang membuatmu akan tersenyum melihatku. Lihat saja.


“Nei, ngapain disitu? Dasar..” Iam, sepupu jauhku membangunkan lamunan itu.



8.39 pm. Perjalanan ke Dago. Menjemput Dina, kekasih hati Alvin.

“Sekarang gw udah keluar dari jalur, Nei”. Alvin kembali mengucapkan itu dengan wajah fokus setirnya.

Aku ingat kalimat itu.  Inikah cinta? Buatku, ia formula yang merumitkan kepala. Kompleks. Alvin mampu mengartikannya untuk menemukan keping hati yang membuat hatinya kini terisi kembali. Kembali? Ahh, cinta! Didalamnya ada harapan, rindu, sayang, dan masa depan.

10.01 pm. Kafe I Love U. Lembang.

Now you are here, Nei! Kisah masa SMA, mengingatkan banyak kenangan sekaligus pelajaran. Kisah yang menata doaku lalu memberiku jawaban kini. Rancangan mimpi baru dengan segala keberanian. Untuk papa yang peluhnya mengantarkan semangatku bervolume tak hingga. Untuk mama yang tiap titik air mata dalam doanya menghembusnya nyawa mimpiku.

3.35 am. Ruang kerja kakakku.

Allah, apa kejutan dibalik ini?

Bandung, 1 Feb 2012
3.36 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: