1000guru, Nualunat yang Memikat

Namanya 1000 guru. Komunitas yang menjembatani salah satu must list gw untuk ketemu anak-anak pedalaman di daerah perbatasan Indonesia. Yes, finally tanggal 22-27 April 2017 gw keliling Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Gw bingung mau cerita dari mana.
Hmm.
Oke, intinya gw jalan-jalan tapi juga jadi volunteer untuk mengajar anak-anak pedalaman di desa bernama Nualunat.
Desanya bersih, masyarakatnya ramah, alamnya bagus luar biasa. Gw butuh waktu 4 jam perjalanan dengan mobil dari Kupang untuk samapai ke Desa Nualunat. Jalanan di sana bebas macet, tapi kanan kirinya hutan dan rawa. Gw yang abis duduk diam di pesawat selama 4 jam (transit), dipastikan pegal-pegal. Ketika mobil tiba-tiba berhenti di tengah jalan untuk menunggu rombongan mobil lain, gw ke luar dan seketika teriak, “Bintangnya bagus banget!”
Iya, gw seheboh itu kalau ketemu bintang bagus. Gw nggak tau itu daerah apa namanya, yang pasti sekitar 2 jam dari Kupang menuju Nualunat, dengan kondisi kanan kiri rawa dan hutan. Sejauh mata memandang, itu bintang di langit kayak pasir bertaburan, saking banyaknya. Semua rasi bintang keliatan dengan jelas. Mulai dari rasi bintang orion, pari, biduk, sampai scorpio nongol semua. Bintang dengan ukuran kecil-kecil kayak gula berantakan juga rame banget. Suer, itu taburan bintang paling indah yang pernah gw liat. Even gw naik gunung, kemah di hutan, atau kemah di pantai sekali pun. Cakep banget!
Begitu nyampe Desa Nualunat, gw dan rombongan di sambut sama warga… rame banget! Beberapa dari mereka melakukan tarian selamat datang diiringi kata-kata berbahasa Dawan. Gw nggak ngerti sama sekali. Tapi, senyum ramah dan wajah antusias mereka menjelaskan lebih detail. Kami nyampe jam 11 malem dan mereka masih semangat luar biasa. Keren banget.
Mbah Google nggak ngasi penjelasan banyak tentang desa ini. Yang pasti, anak-anak di sini nggak tau gimana rasanya mainin stop kontak lampu. Di sana nggak ada listrik euy! Tapi, demi kami yang nginep semalam di ruangan kelas, warga menyiapkan genset dengan 3 lampu yang menyala sepanjang malam. Mereka keren banget!
Karena kami sampai desa larut malam, warga kembali mengadakan penyambutan adat di pagi harinya. Makan sirih pinang. Iya, ritual makan sirih pinang wajib hukumnya di sini. Gw nggak bisa mendefenisikan rasanya. Ya, gitu deh. Tapi, tetap gw makan..hmm kunyah maksudnya. (Karena waktu yang pertama gw makan euy! Geblek.)
Kepala adat kemudian memberikan kata sambutan. Dimulai dengan Bahasa Dawan lalu Bahasa Indonesia yang akhirnya gw bisa paham per katanya. Satu kalimat yang masih banget terngiang di telinga gw.
“Walaupun kami berada di ujung timur, kami tetap Indonesia.” Ucap beliau dengan tegas.
Ada rasa haru, sedih, dan bangga yang nyatu jadi satu tanpa bisa gw ungkapkan dengan kata-kata detik itu.
Namanya Tari Natoni, adik-adik kecil dengan selendang tenun menari dengan makna selamat datang kepada para volunteer. Selanjutnya, semua volunteer diberi selendang tenun asli Nualunat yang dipasangkan satu persatu. Gw suka banget! Gw bingung ngejelasinnya, tapi gw haru banget.
Selanjutnya adalah Tari Bonet. Anak-anak menari membentuk lingkaran dengan gerakan maju mundur. Gw pernah nari jenis begini waktu zaman Pramuka dulu, dan gw langsung pengen gabung. Eh,dibolehin. Yaudah, ikutan nari deh. Asik banget, suer! Tarian ini artinya pemersatu.
Selanjutnya, kelas mengajar. Ini dia kegiatan utamanya.  
Berjumlah 34 orang, volunteer di bagi menjadi enam tim untuk mengajar di kelas 1 sampai kelas 6. Gw kebagian untuk mengajar di kelas 6 bersama 1 volunteer dari Jakarta, 1 volunteer dari Papua, dan 3 volunteer India. Iya, India. Dan selama kelas berlangsung ada tiga bahasa yang berkumandang di kelas, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Satu lagi, Bahasa Dawan yang berbisik di antara anak-anak. Jangan bayangin riwehnya kelas, karena yang terjadi justru sebaliknya.
Namanya dr. Arumeet. Beliau dokter dari India yang kini tinggal di Indonesia bersama suaminya. Kalau dokter pada umumnya membawa stetoskop ke sana sini, dr Arumeet membawa senyum dan semangat positif yang ia tularkan dengan cara yang unik. Gw pernah cerita tentang doi di postingan sebelumnya.
Yap, maka kelas dengan tema profesi dan mimpi kami isi menjadi kelas yoga dan origami. Dr Arumeet mencontohkan gerakan yoga satu persatu dengan Bahasa Inggris satu persatu. Lalu, gw dan teman gw translate juga satu-persatu. Dan, hasilnya luar biasa! (Gw pengen nunjukin langsung gimana serunya, tapi kami semua lupa untuk menyalakan kamera HP. Sorry guys..)
“Mari kita jadi matahari. Kenapa? Karena matahari memberikan kehidupan pada bumi. Kepada kita. Matahari menjadikan kita sehat!”
Anak-anak dan semua volunteermengikuti gerakan dr Arumeet. Kami bersama-sama mengangkat kedua tangan ke atas, membentuk lingkaran sambil menarik nafas dalam dan membuangnya pelan-pelan.
“SAYA SEHAT!” Kami berteriak bersama.
Dilanjutkan dengan gerakan menyatukan kedua tangan ke atas, menjadi pohon.
“Pohon itu tinggi besar. Dia bisa melihat banyak hal. Pohon itu kuat.”
“SAYA KUAT!” Teriakan anak-anak semakin antusias.
“SAYA PERCAYA DIRI.” Dilanjutkan dengan teriakan yang diiringin gerakan dua jari kanan di tulang selangka dada dan telapak tangan kiri diletakkan di tengah perut.
Dilanjutkan dengan gerakan keseimbangan otak kiri dan kanan, gerakan untuk kesehatan mata dan telinga, di akhiri kalimat, “AKU CINTA DIRI SENDIRI!”
Dengan bahasa amburadul, tawa anak-anak antara bingung, antusias, dan lucu…siang itu luar biasa! Energi positif yang kami sebarkan hari itu masing-masing memberikan kekuatan besar untuk diri sendiri.
Kelas dilanjutkan dengan origami membuat burung dan pembagian tas untuk anak-anak. Semua senang, semua gembira, semua punya cerita baru.
Iya, cerita baru.
Satu dari banyak hal yang gw dapat dari Desa Nualunat. Kita butuh cerita baru dalam hidup. Ilmu baru, orang baru, lingkungan baru, dan semangat baru. Mimpi itu bukan hanya tentang tujuan hidup, tapi dia nyawa kehidupan itu sendiri. Anak-anak yang berjalan kaki 5 km untuk sampai ke sekolah, mengajarkan gw tentang itu.
Dear adik-adik, warga, kepala adat, sunrise, sunset, bintang, suara anjing, makanan, tarian, Bahasa Dawan, sirih pinang, tenun, pantai, senyum, tawa, dan semua elemen Desa Nualunat..
Terima kasih atas hari luar biasa ini.
Gizsya
Keindahan Desa Nualunat dan sekitarnya gw share di @gizsyaresha

2 Comments

  1. Hi Gizsya !! Its really nice to read thr experience of Nuanlaut grade 6 class through your web page . It was really wonderful interacting with you and other members through this platform.Thanks a lot !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: