Revisi oh Revisi

Hampir dua bulan ini gw ketak ketik revisi untuk klien. Iya, revisi.
Kalau ngetik kata’ revisi’ entah kenapa keinget sama skripsi. Hihi. Dan, kalau lo nge-klik postingan ini karena merasa dalam satu kapal revisi seperti gw, bisa gw prediksi lo adalah mahasiswa tingkat akhir yang lagi bete sama dosen karena doi perfeksionis. Hah!
Iya, dulu waktu gw skripsi, banyak banget revisi. Ada kali enam bulan lebih cuma buat ngikutin apa kata itu dosen. Berat badan gw pun menurun gegara stres liat laptop tiap malam, tapi tetap aja bingung apa yang mau direvisi. Nah, kan kenapa gw jadi ngomongin skripsi. Masa lalu itu, Sya. Okesip! Maafkeun…
Jadi ceritanya, klien gw minta revisi di beberapa bab karena ada banyak cerita yang beliau lupa-lupa ingat. Jadilah gw revisi beberapa kali supaya buku ini benar-benar based on true story.
Tapi, tenang aja. Revisi kali ini nggak sampe bikin berat badan gw menurun. Gw masih nongkrong dan nulis di coffee shopsambil haha hihi dan diselingin main Uno. The point is, revisi skripsi tetap menduduki posisi teratas revisi paling menyebalkan. Huft.
Cerita tentang revisi. Gw mau bikin analisis yang seperti biasa, gegara jari gw mendadak membuka file doc baru ditengah dokumen kerjaan.
Pertama. Revisi itu mengajarkan bahwa tidak ada yang sempurna. Iya, seberapa yakin kita dengan hasil yang kita buat, tetap aja ada hal yang harus diperbaiki, dan itu harus dilihat oleh mata orang lain. It means, kita harus tanya ke orang lain tentang hasil yang kita kerjain.  Kaya benchmark gitu deh.
Kedua. Revisi itu ngelatih kita untuk jauh lebih teliti. Dulu, gw pernah kerja sama partner yang bahkan masalah huruf kapital dan huruf miring aja harus direvisi. Padahal, waktu itu gw bukan lagi bikin buku, melainkan bikin sistem yang huruf bukan jadi masalah. Tapi, doi bilang, itu bukan tentang penting atau tidak, tapi melatih gw untuk lebih teliti terhadap hal kecil sekalipun. Kalau yang kecil saja terabaikan, maka bisa jadi hal besar akan terabaikan nantinya. Nah kan, gw jadi kangen sama doi. Hihi..
Ketiga. Revisi melatih untuk lebih kreatif agar hasil lebih memuaskan. Iya. Gw harus mikir gimana kesinambungan paragraf tetap enak dibaca walau ada yang tiba-tiba ditambah, dikurang, atau diganti sekalipun.
Keempat. Revisi bikin lo makin sering minum kopi. Iya, gw jadi makin getol sama kopi! Hahaha..
Okay, sekian dulu curhatan nggak jelas gw tentang revisi. Gw harus kembali ke dokumen sebelah.
Semangat revisi!
Gizsya

With coffee,19.11.15 – 10.40

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: