Volunteer Conference: Karakter Menentukan Kesuksesan


Kali ini gw pengen berbagi cerita tentang komunitas yang sejak tahun pertama gw terdampar di Jakarta, gw udah kecemplung di sini. Komunitas ini letaknya di pinggiran Manggarai. Kalau lo suka naik Kopaja 66, nah turun deh di lampu merah Manggarai terus nyebrang kali Manggarai naik getek yang nangkring di situ.
Nah, tiga hari ini gw dan teman-teman berkumpul dengan seluruh volunteer se-Jawa yang sama-sama suka anak-anak (bukan pedopil, lho). Kami rela bolos kuliah dan ngantor karena pengen tau bagaimana cara yang baik dan benar berbagi dengan anak-anak. Bukan hanya bermain petak umpet bareng mereka, tapi ternyata hal curhat-curhatan yang sering kami lakukan sangat memengaruhi mereka. Kalau gw petik dari buku Sociology, katanya mereka akan menjadikan orang yang lebih tua dari mereka sebagai role model. Hmm, ternyata jadi volunter untuk anak-anak nggak segampang itu yee..
Oke, sampai disitu intermezzo dari gw. Karena tujuan gw nulis kali ini adalah untuk bagi-bagi hasil volunteer conference yang gw dapat selama 3 hari di Villa Jatimas Hijau, Cisarua, Bogor. (Berharap next conference kita ngunjungin rumah singgah teman-teman volunteer yang di Lombok. Hehehe..)
Sesi pertama workshop yang gw telan itu di suguhin oleh Bapak Eddy Hartono. Di kartu namanya, beliau adalah trainer dari CTI (Character Training Institute). Nah, dari backgroud beliau, tentu donk workshop yang kami telan itu tentang karakter. Yap, judulnya Character First.
Banyak banget tagline yang nyebutin bahkan Karakter itu menentukan Kesuksesan. Oksiip, gw setuju seratus persen sama hal yang satu ini. Selain karena om pemberi beasiswa gw punya karakter pebisnis yang bikin doi mampu gratisin banyak anak kuliah, gw juga ngeliat bahwa tiap orang sukses punya karakternya sendiri yang akan menonjolkan dirinya di kehidupan yang tentunya membawa kesuksesan. Nggak salah kalau banyak buku seperti No Excuse, The Secret, The Answer, Quantum Ikhlas, dan lainnya bicara tentang hal ini dari sudut yang berbeda-beda tapi tetap satu jua di tujuannya.
Hasil rekaman otak gw waktu duduk manis di ruangan workshop, karakter itu adalah siapa diri kita sebenarnya baik di depan orang lain atau tidak. Nah, karakter ini menentukan setiap jenis respon yang kita lakukan. Nah, karekter ini pulalah yang memperlihatkan siapa diri kita ketika berada di situasi baik atau di situasi yang buruk sekalipun.
Nah, ternyata karakter ini bukanlah bawaan dari orok atau full oleh didikan dari orang tua dan guru. Terlebih, karakter itu terbentuk oleh lingkungan. Paling utama, ketika kita berada di dalam suatu tekanan dan harus menentukan sikap yang akan diambil. Jadi, semakin banyak proses kehodupan yang kita alami dari berbagai situasi dan kondisi, semakin matang pula karakter yang akan terbentuk. Hmm, kalau gw hubung-hubungin sama perkataan Socrates, emang bener ya kalau kita hanya terkungkung di situasi yang sama dengan zona nyaman yang membuat kita nggak mau keluar, pasti kita hanya akan mengetahui satu sudut dari kenyamanan hidup, padahal banyak hal lain yang lebih indah yang akan memberi tau siapa diri kita. 
Manusia sempurna cuma Nabi Muhammad SAW, nah kita cuma mampu belajar terus menerus tanpa mengejar kesempuraan. Karena itu, selalu ada kelebihan dan kekurangan ditiap jiwa dan raga manusia. Kelebihan akan menjadi zona khusus ketika kita ada dalam area kekurangan. Mengapa ia menjadi zona khusus? Karena area kekurangan merupakan area perbaikan oleh si kelebihan. Ini lah yang membuat pembangunan karakter tidak secepat naik lift yang langsung menuju lantai 20 dalam hitungan menit.
Gw nemuin cara membangun karakter dari workshop ini, yaitu:
1.       Membuat komitmen pribadi
2.       Memeriksa kelebihan dan kekurangan
3.       Miliki rencana
Kita yang tau arah tujuan kita. So, kita juga yang paling tau komitmen atas diri sendiri, komitmen akan masa depan dan komitmen akan kehidupan. Selanjutnya, lakukan penelusuran kelebihan dan kekurangan. Cari area perbaikan, lalu PERBAIKI..! Satu persatu karakter pun terbentuk. Next, all is useless if don’t have any plan in ur life. Nah, menyusun rencana tentu akan menjadikan karekter lebih matang.
Seperti berlian yang diukir dari 56 sisi untuk menjadi sempurna, seperti itulah karakter. Ia membutuhkan banyak sentuhan pengalaman hidup dari tiap sudut kehidupan yang berbeda.
Tadi udah gw sebutin bahwa karekter lebih cepat terbentuk ketika berada dalam tekanan. Gw pengen kasi analogi. Di negara empat musim, kapankah pohon mengalami masa produksi paling tinggi? Well,pasti musim semilah yang mengisi jawaban di otak. Oksiip, emang benar pada musim semi pohon akan terlihat rindang dengan banyak daun, bunga, ataupun buah.
Lalu, apa yang terjadi ketika musim panas? Pohon meranggaskan seluruh daunnya untuk mengurangi penguapan. Terlihat dari luar, pohon begitu mengenaskan dan menderita. Tapi, ternyata sang akar pohon sedang sibuk memanjangkan seluruh armada akar untuk mencari sumber air. Ingat pelajaran sains kelas 3 SD? Akarlah yang membuat pohon berdiri dengan kuat. Ketika musim panas, pohon benar-benar menderita, namun malah menjadikan akarnya kuat dan semakin kuat. Gw jadi punya tagline baru. Don’t judge tree by the season..!
To be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: