Sumpah Pemuda, Absurd?

Here we go..,
Tentang kecintaan terhadap tanah air.  Tiba-tiba aja gw nanya ke diri gw sendiri tentang seberapa cintanya gw terhadap bumi Indonesia ini. Nah, gw inget ada teman gw yang pasang status BBM “ACI-Aku Cinta Indonesia”.
Gw inget kalau Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Gw inget juga kalau bapak proklamator itu bapak ganteng Soekarno dan Hatta. Gw tau kalau 1 Juni itu hari kelahiran Pancasila serta 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila. Gw hapal Pancasila dengan baik dan benar. Juga tau filosofi lambang negara kita, Garuda Pancasila. Dan gw inget, kalau hari ini hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda. Gw nggak mungkin ikutan demo untuk bersuara didepan pemerintah. Gw juga nggak muluk-muluk bikin komunitas pemuda yang isinya orang-orang bernasionalisme tinggi. Gw cuma lagi pengen korelasiin Sumpah Pemuda dengan kuliah gw.

Nah, kalau lo liat buku-buku gw yang nangkring di loker atau di rak buku kamar gw, keren banget dah. Buku kuliah gw semuanya terbitan PEARSON, WILEY, atau Mc. GRAW HILL. Gw cuma punya dua buku cetakan Indonesia, yakni matakuliah Bahasa Indonesia dan Perpajakan. Itu juga pasti karena sistem per-bahasa-an dan perpajakan di Indonesia nggak sama dengan negeri Paman Sam itu.
Kalau dihitung-hitung, buku gratisan dari kampus gw bisa gw jadiin modal usaha kalau gw jual di Senen ntar waktu lulusan kuliah. Secara, harganya selangit euy. Tapi, buku-buku itu nggak sekeren itu cuy.. Kenapa?
 Gw inget-inget. Dosen gw di kelas ngajar pake Bahasa Inggris. Ngomong sama dosen di kelas pake Bahasa Inggris.   Studi kasus seringnya bahas perusahaan luar negeri. Soal kuis pake Bahasa Inggris.  Soal ujian juga Bahasa Inggris. Nah, jawabannya juga pake Bahasa Inggris.
Kadang gw jadi mikir, kapan gw pake Bahasa Indonesianya? Ntar kalau gw skripsi, bisa susah donk ya? Gara-gara kamus Bahasa Indonesia di otak gw nggak terasah dengan maksimal…
Coba deh, dalam pergaulan sehari-hari sering banget kan pake istilah Bahasa Inggris? Misal ni..
“Eh, kita meeting di Student Center yak”
Oksiip, kata ‘Student Center’ mungkin karena kampus gw menamai semua ruangan pake Bahasa Inggris. Nah, kata ‘meeting’?
“Segalanya itu di liat donk opportunity cost-nya. Pilih yang better donk”
Oksiip, kata ‘opportunity cost-´keluar karena sering kita gunakan kalau lagi kuliah. Nah, kata ‘better’?
Ok, more simple. Coba deh, buka recent updates status BBM BB lo, buka home FB, atau home twitter. Berapa orang yang bikin status atau nge-twit pake Bahasa Inggris? (Termasuk gw)
Ya, gw mengaku bertumpah darah dan berbangsa satu, Indonesia. Tapi, sungguh rada pesimis kalau selama ini telah menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia! (Baca tiga sumpah di Sumpah Pemuda)
Yap, kita emang harus siap dengan era globalisme, tapi kenapa harus begini banget yak?
Whatever, gw juga sering banget menggunakan Bahasa Inggris. Gw juga banyak menggunakan kata Bahasa Inggris di tulisan gw kali ini. Bahkan setelah gw scrool back,awal paragraf gw udah pake Bahasa Inggris.
Dipikir-pikir lagi. Salah nggak sih kondisi ini? Bukankah ntar bisa memengaruhi kecintaan kita terhadap Bahasa Indonesia? Jika bahasa sebagai nafas komunikasi sudah tak menjadi prioritas nasionalisme, apa jadinya dengan kecintaan terhadap bangsa dan negara?
Manakah yang dikatakan hakikat sumpah pemuda?
(absurd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: