Suara Rindu #4

Alfa
Zia, aku tahu ada yang berbeda dengan senyummu hari ini. Zia, aku tahu ada sedih dibalik tawamu pagi ini. Zia, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja.
Entah apa yang sedari tadi mengelilingi kepalamu hingga senyummu yang merekah tetap meninggalkan sedih yang tersirat dengan jelas. Apapun itu, ku yakin bukan tentangku. Aku tahu kamu, Zia.
Tapi, Zia. Izinkan aku menjadi lelaki paling egois hari ini. Aku tak akan bertanya siapa pelaku sedihmu. Aku bahkan tak mau tahu perihal sedihmu. Maafkan aku, jika hari ini aku tak akan menjadi sahabat baik yang akan mendengar ceritamu. Aku hanya ingin kamu untukku hari ini. Aku hanya punya satu hari ini, Zia. Setelah kamu kembali ke Jakarta, aku siap kembali menjadi pendengarmu.
Hanya hari ini, Zia. Izinkan aku melegakan semua rindu yang menyesak di dada. Bahkan jika kamu diam tanpa kata, aku baik-baik saja.

 

Zia
Alfa, ada satu nama yang ingin ku teriakkan sejak tadi. Bukan, tapi sejak kemarin. Bukan, tapi sejak seminggu lalu, sebulan lalu, setahun lalu, ….lima tahun yang lalu. Reihan.
Aku rindu Reihan, Alfa.
“Al, arti rindu buat lo apa?” Tanyaku.
“Pengen ketemu.”
“Lo pernah kangen banget sama seseorang?”
“Pernah.”
“Apa yang lo lakuin?”
“Bersyukur.”
“Ha?” Aku memasang wajah bingung.
“Iya, bersyukur karena kangen itu yang membuat gw bertahan.”
“Tadi lo bilang pengen ketemu. Rindu kan berarti nggak ketemu. Kok malah bersyukur?” Tanya ku heran.
“Rindu itu, bahkan ketika udah ketemu tetap masih rindu. Bahkan, ketika dia ada di depan lo, tetap masih kangen. Begitu indahnya rindu. Makanya gw bersyukur.” Jawabnya dengan nada datar.
“Wuah… Nggak salah lo jadi player. U re such a good talker.” Balasku dengan tawa kecil.
Alfa selalu tahu cara membuat hal kecil jadi berarti. Setidaknya itu yang kutahu darinya sejak bertahun-tahun lalu.
Alfa
“Gw serius, Zia.” Tandasku ketika Zia mengganggap arti rinduku sebuah candaan.
Itu yang kurasakan, Zia. Sesak rindu di dada ini tetap kusyukuri bahkan jika suaramu semakin menyiksa. Rindu untukku sesederhana itu, Zia. Aku tetap mengingatmu tanpa sadar dan suaramu tetap terngiang di telingaku tanpa bisa ku kendalikan. Bahkan jika sekarang kamu ada di depan mataku, aku masih merindumu. Dan, aku mensyukuri itu.
Zia
Alfa, bagiku rindu ini cukup menyiksa hingga aku ingin lupa. Aku tak ingin merindu Reihan lagi.
 
Gizsya
Cerita sebelumnya, klik di sini.
Cerita selanjutnya, klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: