Pertanyaan Kapan Nikah Versus Lingga

Tulisan ini gw persembahkan untuk seorang sahabat yang gw kenal sejak masuk kuliah S1 di Jakarta. Jika dihitung dengan angka, tahun ini adalah tahun ke-9 gw berteman baik dengannya. Kalau kalian pernah membaca beberapa tulisan gw tentang persahabatan, dia salah seorang di antaranya. Sebut saja namanya Lingga.

“Tahun ini, tahun ke-3 pernikahan gw.” Katanya.

Bentar lagi lebaran, bagi yang belum menikah bakal ditanyain kapan nikah. Bagi yang sudah menikah bakal ditanyain kapan punya anak. Dan, bagi yang udah punya anak, bakal ditanyain kapan nambah anak. Semua kondisi bakal tetap ditanyain. Terima aja udah.

Tapi, lain halnya dengan Lingga.

Lingga menikah 3 tahun lalu, dengan alasan yang sangat indah. Calon suaminya mengidap stroke ringan di usia yang masih cukup muda. Namun, dengan alasan itu pula Lingga memutuskan untuk mempercepat pernikahan demi menjaga calon suami dengan status halal.

Hari berganti, bulan bertambah, tahun terus melaju. Di tahun ke-3, suami Lingga tidak menunjukkan kabar kesembuhan. Stroke yang dialami mengalami komplikasi sana sini hingga akhirnya Lingga mendapat kabar bahwa suaminya mengidap kanker darah merah. Dan, Lingga terus di samping suaminya. Menjaganya tiap malam, berdoa di sampingnya di sepertiga malam, dan terus menyatakan cinta dalam tiap tindakan. Dia Lingga, seorang sahabat bertubuh mungil dengan hati sekuat baja.

Cerita ini bukan untuk berbagi kesedihan Lingga, melainkan kekuatan yang ia punya. Selama 3 tahun menikah, Lingga tidak pernah mengumbar kesedihan. Jauh dari itu, Lingga tetap tersenyum dan tertawa bahagia sama seperti pasangan pengantin baru lainnya. Obrolan antar teman tetap berjalan sama seperti masa kuliah. Kami tak pernah menangisi Lingga yang memilih kisah cintanya dengan nama Allah. Lingga juga tidak pernah bersedih pilu atas pilihannya. Pada malam-malam yang dipilih, Lingga pasti punya cara bercerita sendiri dengan Allah.

Dia selalu menghidangkan makanan lezat, tiap kali gw dan komplotan teman lainnya bertandang ke rumahnya untuk saling berbagi cerita. Anto dengan kisah pacar barunya, Alit bercerita tentang anak pertamanya, Tari bercerita tentang kisah cinta barunya, Emmy bercerita tentang hobi barunya, dan gw bercerita tentang adaptasi pengantin baru. Semua punya ceritanya masing-masing. Saling mendengarkan dan saling mendoakan.

Namanya Lingga.

Sahabat yang memilih cinta dengan nama Allah sesulit apapun jalan yang ditempuh. Lingga terus berikhtiar meminta dan berusaha, dan terus berbahagia dengan yang ia punya. Lingga mengajarkan makna pernikahan dengan sisi yang tak biasa. Lingga memberitahu bagaimana pernikahan menyatukan hati untuk kekuatan yang luar biasa.

Lalu, bagaimana dengan yang sedang siap-siap ditanyain ‘kapan nikah’ lebaran nanti?

Dear jomblo, pernikahan tidak semanis drama korea. Nikah itu bukan tentang siapa yang duluan, dan siapa yang belakangan. Nikah itu bukan pertandingan cuy. Nikah itu tentang kesiapan lo hidup dengan orang lain dan bersatu dengan semua yang ada pada orang itu. Baik wajahnya, tingkahnya, tubuhnya, kondisinya, hartanya, kelebihannya, kekurangannya, dan masa depannya yang digabungkan dengan diri sendiri. That’s not easy gengs!

Di sekitar gw.

Ada yang sedang mencari kerja sebagai fresh graduate dan tidak lolos bahkan setelah lamaran ke-5. Ada yang sudah tahun ke-3 menganggur hingga akhirnya bingung harus mengirim lamaran kemana lagi. Ada pula yang sedang bingung memilih 3 perusahaan kece yang menawarinya posisi dan gaji menjanjikan.

Ada yang cerita tentang cinta pertama yang terus diharapkan namun bertepuk sebelah tangan. Ada yang tiba-tiba nge-chat larut malam curhat tentang kepusingan persiapan pernikahan. Ada yang menanti pasangan hingga di usia 37 tahun dengan terus solo travelling keliling dunia menikmati apa yang ia punya. Ada yang sudah berpacaran lebih dari 4  tahun tapi tak tahu keberlanjutan hubungan karena perbedaan agama. Ada yang sudah berpacaran lebih dari 6 tahun namun tak kunjung menerima lamaran dari pacarnya. Ada yang sedang berbahagia menikmati perkembangan anak di awal melahirkan. Ada pula yang berbagi cerita ramenya rumah dengan dua anak berusia 2 dan 3 tahun. Juga ada Lingga dengan ceritanya.

Semua punya cerita. Semua punya kondisi dari kacamatanya. Nggak ada yang lebih expert atau yang lebih ‘wah’. Karena bahagia kita yang punya. Karena semua langkah hidup punya ‘gong’-nya. Karena tiap fase hidup adalah yang pertama bagi masing-masing kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: