Ketika Prioritas Tak Sama Dengan Nurani

Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu banyak sekali.
(Aku harus begini, aku harus begitu. Harus ini, harus itu banyak sekali.)
Aku ingin terbang bebas di angkasa…
Lalala..,
Kalau barusan lo menyanyikan lagu Doraemon saat baca paragraf sebelumnya, berarti masa kecilnya bahagia, karena nggak dihabisin main Ipad. Beruntunglah.. Hehehe
Andai aja Doraemon nyata di dunia, gw pengen punya satu. Semuanya bisa terkabul dengan kantong ajaib. Nggak perlu mikir yang mana yang harus dilakukan duluan. Karena semua menjadi mudah. Hmm..
Tapi, dunia ini tanpa Doraemon yang bisa memberi solusi dengan alat ajaib. Tiap kali bertemu pilihan yang sulit, tetap diri sendiri yang mengambil keputusan. Bukan orang lain, atau kucing cerdas sekalipun. Dan hebatnya, dalam hidup manusia selalu dihadapkan antara dua pilihan.
Surga atau neraka. Baik atau buruk. Sekolah atau tidak. Tidur atau bangun. Malas atau rajin. Marah atau diam. Suka atau tidak suka. Sayang atau tidak sayang. Ahh, banyak sekali. Dan, pilihan yang sering kejadian di usia gw adalah…passion atau duty.




Di satu sisi, harus kerja dan diatas 60% berarti gw kerja dibidang Akuntansi. Wajar donk, Sarjana Akuntansi. Tapi, baru aja mulai, gw udah tepar duluan. Dunia yang akan gw hadapin adalah dunia robot. Lingkaran kaki tangan kapitalis. Ingin keluar, namun terbendung prioritas.

Di sisi lain, ingin mengejar passion. Menjadikan diri sendiri sebagai raja atas segala putusan dan inginan. Menjadikan diri sendiri penikmat pemikiran, kreativitas, dan ruang bebas berkarya dan bekerja. Ini nurani. Tapi, ia bertengkar dengan prioritas.
Kalau lo pernah baca postingan ini (Kerja Bukan untuk Rupiah, tapi Ibadah), maka lo akan bilang gw plin plan. Tindakan tak semudah tulisan, guys. Tapi, gw akan jadikan tulisan ini cerminan.
Pertanyaan teman gw nangkring di whatsapp. “Sya, kok gw geli sama teman-teman di grup. Kenapa teman-teman kita banyak mengejar hal yang nggak ingin mereka kejar?”
Actually, pertanyaan doi nampar gw banget. Gw yang dulu nyaranin dia, malah sekarang gw nyaris berada dilingkaran yang ingin gw jauhin. That’s what friends for. Mereka mengingatkan jika kita alpa.
Pasalnya, beberapa teman gw opname karena terlalu capek kerja. Lalu, mereka curhat tentang kerjaan di grup dan saling memotivasi. Gw anggap ini sebagai alarm. Bahwa, tubuh punya batas masing-masing jika melulu mengejar karir. Mungkin benar kata beberapa motivator. Pikirkan saja tujuanmu, maka tubuhmu akan lupa sakitmu. Tapi, tubuh bukan robot yang alat vitalnya bisa diganti kalau rusak. Iya, bukan?
Ketika prioritas tak sama dengan nurani, untung saja kita bisa tanyakan solusi. Wahai Allah, beritahu hamba-Mu yang manis ini untuk melangkah. Amin. J

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: