Ketika Cinta Harus Memilih

Sahabat itu seperti alarm yang membangunkan jika alpa, seperti bak air yang menampung keluh kesah, dan seperti lonceng yang bawel dalam bahagia dan marah.., bersama.

Sebut saja Mawar. Sahabat yang dulu bareng-bareng menempuh masa studi S1 yang menyenangkan dan mencekam. Haha..
Mawar: “Sya, gw mau curhat.”
Gw: “For sure. What’s the matter?”
Mawar: : “Ceritanya singkat. Kemarin Sabtu Kak Renaldi mampir ke rumah gw abis dia dinas di Solo. Tiga hari sebelum Kak Re datang, sahabat gw, anak sahabat nyokap yang gw suka, bilang suka ke gw. Seminggu gw galau. Sering nangis. At the end, gw memilih sahabat gw yang gw suka, namanya Doni. Doakan kami berjodoh ya.”
Gw: “Wuah, long time no see. Gw dapat cerita begini. Semoga berjodoh dan lancar. Tunggu deh, kenapa lo pake nangis?”
Mawar: “Namanya juga memilih, Sya. Kak Re itu orangnya sangat sangat baik juga.”
Gw: “Btw, nama Doni juga nggak asing di gw deh. Itu kisah cinta lo zaman kapan tau kan ya?”
Mawar: “Iya, itu pertama kali gw jatuh cinta, Sya.”
Gw: “Sama Kak Re, lo bukannya dulu pernah bilang ke gw klo lo juga suka sama dia?”
Mawar: “Iya, gw suka. Karena gw sering diskusi bareng dia. Tapi, gw nggak jatuh cinta. Lo paham kan maksud gw?”
Gw: “Hahaha. Jatuh cinta. Sakral yah.”
Mawar: “Ada orang yang bisa jatuh cinta berkali-kali, tapi ada juga yang sulit. Gw tau lo termasuk orang yang mana.”
Gw: “Okay, stay focus on your story.”
Mawar: “Hahaha. Gw sempat cerita ke ustad sebagai pilihan istikharah gw. Gw cerita detil ke beliau. Tentang kualitas mereka. Perasaan gw condong ke Mas Doni, tapi dia belum siap nikah tahun ini, mungin tahun depan. Karena ibunya pengen dia siap secara finansial dulu. Sedangkan Kak Re udah siap banget. Terus, ustad nanya, ‘Kamu umur berapa?’ Gw bilang, ’21 tahun, Tadz.’ Lalu, ustadz bilang begini, ‘Kejar cintamu. Karena dalam pernikahan senang-senangnya itu paling cuma beberapa bulan pertama euforianya. Ketika ada cinta, saat situasi pernikahan lagi nggak mudah, maka akan lebih mudah untuk sabar. Kamu masih muda, kejar cintamu. Jangan buru-buru memilih.’ Gitu, Sya.”
Gw: “Wuahh, jawaban ustadz lo, bikin gw merinding sekaligus mikir.”
Mawar: “Iya, gw tau lo pasti bakal mikir. So, what about you?
Gw: “Me?”  
Ketika cinta memberikan pilihan. Ketika cinta mempertanyakan kesungguhan perasaan. Maka, cuma Dia yang akan memberi jawaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: