Deadline 25

Jam setengah empat. Udah dua gelas kopi gw tenggak. Kemarin, gw baru aja mencret abis-abisan gegara minum kopi yang gw bawa hasil jalan-jalan dari Indonesia Timur. Gw yang udah biasa minum kopi, tiba-tiba mencret. Gw bingung juga kenapa. Mungkin itu jenis kopi yang strong banget. Alhasil, setelah diomelin temen gw berkali-kali, gw insaf nggak ngopi selama dua hari. Dan, malam ini gw nggak tahan lagi. Hahaha..
What are we talking about?
Gw nggak tau mau nulis apa, suer. Akhir bulan ini gw punya deadline tulisan dan beberapa flowchartdi tanggal yang sama. Tanggal setelah deadline itu, gw juga ketemu deadline. Tapi, bukan deadline kerjaan. Deadline ini lebih penting itu semua.
Iya, bentar lagi gw dua puluh lima tahun. Bukan angka yang kecil buat gw. Di umur segini, gw suka mikir…gw udah ngapain aja ya? Nothing. I do nothing.
Teman-teman terdekat gw sering bilang kalau gw kebanyakan gaul sama laptop, kopi, dan buku. Gw juga mikir gitu sih kadang. Gw kangen adik-adik gw di Jakarta Utara. Karena gw punya jadwal meeting tiap Sabtu dan jadwal ‘wajib lapor’ ke kantor tiap Senin, gw jadi susah ngatur jadwal ngajar anak-anak di weekend. Lama banget. Iya, lama banget gw nggak main ke sana. Gw kangen.
Gw kangen dipelukin anak-anak. Gw kangen bau kali yang jorok. Gw kangen diceburin ke empang. Gw kangen sosis pinggir jalan. Gw kangen mereka.
Semakin bertambah usia, skala prioritas bergerak. Gw harus balik ke tangga mimpi gw, dan ada yang mesti gw korbanin. Dan sacrifice itu ngajar anak jalanan. I cant tell how much I love kids. But, main sama mereka itu kayak recharge, refresh.., happiness.
Teman gw sesama volunteer pernah bilang. “Kita harus menyelesaikan urusan sendiri dulu, untuk bisa sepenuhnya menjadi sukarelawan. Entah apapun itu.”
So, apa yang menyita waktu gw sekarang semoga bisa jadi jalan gw menyelesaikan apa yang pengen gw raih. Semakin cepat gw selesaikan, semakin cepat juga gw bisa balik untuk berbagi senyum sama mereka. Pun dengan cara yang lain, tempat yang lain, atau cara yang lain. Yang penting esensinya sama. Right?
“Kamu tu kebanyakan bingung. Jalanin aja.” Kata sahabat gw di tengah obrolan.
Tapi, bukannya biologis manusia ditakdirkan untuk bingung? Karena hati dan pikiran nggak selamanya seimbang. Makanya terciptalah kata ‘bingung’.
Jalanin aja.
Gw pernah nulis gini di buku gw.
“Tak ada usaha yang sia-sia. Tak ada satu peluh pun yang luput dari penilaian Allah. Yang harus kita lakukan hanyalah berusaha yang terbaik saja.”
“Terus bergerak. Niat baik akan bertemu dengan yang baik pula. Bukankah Allah sudah mengatur semuanya?”
Jam tiga lewat lima puluh. Bingung gw sama angka dua puluh lima udah mulai berkurang. This is a magic of writing, guys. You must try! Hahaha..

Gizsya
With coffee, 03.51-22.05.17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: