CINTA Jadi Butiran Debu? Ogah!

Gw lagi pengen cerita tentang CINTA yang berlandaskan lagu Butiran Debu yang legi eksis. Gw bukan marketingnya Circ.us Records, penggemar gilanya Rumor, atau pembedah puisinya Ribas yang jadi lirik lagu tersebut. Nah, ini alasan gw nulis ginian malam ini.
“Sya, lo tau. Kemaren di Pandu nyanyi Butiran Debu di karaoke. Sayang lo nggak ikut. Galau tingkat tinggi dia!” Temen gw nyerocos tentang keasyikan mereka karaokean tanpa gw beberapa hari yang lalu.
“Aku tanpamu butiran debu dah.” Kalau yang ini, gombalan temen gw waktu dapet contekan tugas kuliah di Student Lounge kampus gw.
“Horee:) gt dong,skali2 lo mikirin gw dlm membuat kelompok jg dong,biar gw g trkatung2…haha
*aku tanpamu butiran debu,halahh…
Eh hr jumat itu kuliahnya apa si,kira2 bs diikutin dg otak yg msi setengah g?hehe” Nah, kalau yang ini copas message temen gw yang lagi liburan di Belanda dan lupa kuliah. (ups)
Gila kan? Tu lagu bukan hanya dianalogikan buat hal berbau CINTA doank. Sampe masalah tugas kuliah aja tetep keserempet lirik lagu itu.
Gw juga mau berbagi detail tentang gemanya lagu tersebut di kehidupan sekarang ini (halahh)..
Diguyur kelas Taxation pagi-pagi, tanpa sarapan, plus pre-test dan post-test. Mabok dah! Jedah 10 menit sebelum masuk matakuliah kedua Advanced Accounting, gw ngalirin suara radio HP pake headset ke telinga gw, XYX.FM.
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Et dah, masih pagi udah ada orang yang request lagu itu.
Kelar kelas, gw meluncur menyapa kenek Kopaja 66 kesayangan gw. Ditemani suara knalpot kendaraan yang bising, gw memejamkan mata  menikmati lagu di MP3 HP gw (ngantuk).
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh
Semua yang terjadi di antara kita ooh
Nyampe Blok M, gw nyari-nyari si metromini 70 untuk mengantarkan gw ke tempat sakral bertumpuknya report yang harus gw kerjain. Ada pemuda pake celana buntung se-dungkul dengan rombe-rombe kuntung ikut naik selama metro mini yang masih nge-tem nyari penumpang. Gitar dia mainkan dengan dagu rada mendongak seperti mencari ilham akan nyanyian.
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu
Ini lagi..ini lagi…

Bukannya bosen atau kesindir karena lagunya galau. Kayaknya hipotesis gw tentang kegalauan anak Jakarta memang benar keberadaannya. Mulai dari pe-request lagu di radio yang mention lagu tersebut via FB atau twitter, para penjual CD bajakan, sampe pengamen demen sama lagu itu.
OK, sekian tentang bukti ke-buming-an lagu tersebut.
Tentang cinta.
Emang benar sih, ketika kabersamaan menyatukan dua insan maka kata CINTA-lah yang paling tepat untuk menyatakan kondisi mereka. Nah, ketika salah satu insan itu mengkhianati CINTA tersebut, pihak yang lainnya tentu merasakan sakit atas pengkhianatan dan ingin melupakan segala kenangan kebersamaan. Gw nggak nyangkal hal ini.
Ketika lo sedih, boleh nangis kok. Teriak aja kencang-kencang di stadion biar puas. Atau malah gampar aja orang bikin sakit hati. Kalau udah pada tingkat akhir, ya dateng deh ke psikolog untuk konsultasi.
Tapi, kalau patah hati bisa langsung bikin kesedihan tak terperikan dan membuat patah semangat untuk tak bisa bangkit melakukan hal lain, bego nggak sih? Atau tenggelam dalam satu kesedihan yang membuat seluruh saraf di tubuh ikutan nangis? What a moron! Bahkan tersesat dalam lingkungan masalah patah hati tanpa mencari jalan keluar untuk membuat kisah cinta lebih baik? Ckckck. Nah, kalau yang terjadi demikian, memang hidup akan menjadi butiran debu ketika patah hati melanda.
 Life is not only about love! Right?
Tau teorinya The Law of Attraction-nya Erbe Sentanu? Nah, kalau patah hati membuat pikirin kita menuju pada butiran debu, maka bisa bener jadi butiran debu donk? Ogah!
Bukankah CINTA itu hal yang hakiki yang akan membuat hari indah? Kalau cinta membuat sakit hati, berarti bukan cinta! Titik.
Ketika CINTA itu retak, yuk cari alat perekat biar dia nyatu lagi. Kalau LEM SETAN nggak bisa, ya cari formula lem yang lebih gila lagi. Intinya retakan cinta tersebut tidak semakin membesar hingga buyar dan menjadi butiran debu cinta yang tadinya indah (move on, cuyy).
Hmm, ternyata kegalauan sering bikin kita nggak logika lagi dalam cinta. Love needs logic, actually!

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: